BAB III ( samuel wilbert gultom ST)


BAB III
LANDASAN TEORI

3.1. Pendahuluan
Setiap perusahaan industri dalam melaksanakan programnya selalu saja di jumpai berbagai persoalan, tentu semua persoalan itu harus dapat dipecahkan dengan bijaksana. Maka untuk dapat memecahkan semua persoalan itu dibutuhkan seorang pimpinan yang bijaksana dalam mengambil keputusan
Salah satu dari berbagai persoalan itu diantaranya adalah dalam hal penggunaan peralatan, apakah peralatan lama tetap dipakai dengan melakukan beberapa perbaikan-perbaikan atau lebih baik menggantinya dengan peralatan-peralatan baru. Agar masalah itu benar-benar dapat diselesaikan dan disimpulkan maka ketelitian mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi suatu masalah sangat penting dalam pengambilan keputusan.
Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat maka perlu diadakan studi terhadap pemakaian mesin dan peralatan.

3.2. Konsep Umur Ekonomis Mesin
Setiap perusahaan, baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar yang menggunakan mesin atau peralatan dalam menjalankan usahanya, selalu dihadapkan kepada masalah apakah mesin/peralatan yang digunakan masih dapat terus dioperasikan atau apakah mesin/peralatan yang baru akan lebih ekonomis untuk segera dimiliki. Seorang pimpinan perusahaan harus mampu mengambil keputusan untuk mempertahankan mesin yang sudah ada atau menggantinya dengan mesin yang baru. Keputusan tentang masalah ini harus dibuat hati-hati serta seirama dengan perubahan dan perkembangan teknologi.
Masalah ini dapat dipecahkan dengan suatu studi yang disebut dengan replacement study. Dengan kata lain replacement study dapat diartikan sebagai suatu studi yang dilakukan sehubungan dengan persoalan-persoalan pergantian mesin/peralatan. Replacement Study juga merupakan bagian dari studi pemilihan alternatif, hanya di dalam replacement study alternatifnya adalah mempertahankan mesin/peralatan yang ada atau menggantinya dengan mesin/peralatan yang baru.
Siklus penggantian peralatan dengan peralatan yang sejenis sering dibuat peremajaan. Dalam hal peremajaan, penilaian didasarkan kepada kombinasi biaya pengembalian modal dan kenaikan biaya operasi. Semakin bertambah umur mesin/peralatan mengakibatkan total biaya operasi akan menaik. Peremajaan mesin/peralatan dilakukan pada saat total biaya tahunan rata-ratanya minimum yang disebut dengan umur ekonomis.

3.3. Dasar Replacement Study
Replacement study biasanya dirancang untuk membuat suatu keputusan ekonomis apakah mempertahankan mesin yang sudah ada atau menggantinya sekarang. Jika keputusan yang diambil adalah mengganti mesin yang sudah ada, maka keputusan tersebut selesai. Tetapi jika keputusannya adalah mempertahankan mesin yang telah ada sebelumnya, maka estimasi biaya akan ditinjau kembali beberapa tahun kemudian untuk memastikan bahwa keputusan untuk mempertahankan mesin masih ekonomis.

3.4. Dasar Replacement Study
Replacement study biasanya dirancang untuk membuat suatu keputusan ekonomis apakah mempertahankan mesin yang sudah ada atau menggantinya sekarang. Jika keputusan yang diambil adalah mengganti mesin yang sudah ada, maka keputusan tersebut selesai. Tetapi apabila keputusannya adalah mempertahankan mesin yang sudah ada, maka estimasi biaya akan ditinjau kembali beberapa tahun kemudian untuk memastikan bahwa keputusan untuk mempertahankan mesin masih ekonomis atau tidak.

3.4.1. Alasan Pentingnya Replacement Study
Adapun beberapa alasan yang menyebabkan pergantian mesin, yaitu:
1. Daya mesin yang telah berkurang dikarenakan kemorosotan fisik (Physical Impairment).
Hal ini disebabkan karena pemakaian mesin yang tidak normal, kecelakaan atau memang umur mesin yang semakin tua. Sehingga mesin tidak mampu lagi menghasilkan produksi dengan kualitas dan kuantitas seprti yang diinginkan. Jika mesin tersebut tidak diganti maka akan mengakibatkan :
a. Biaya operasi yang meningkat.
b. Scrap yang lebih tinggi.
c. Biaya untuk pengerjaan ulang (rework cost) semakin besar.
d. Penurunan kualitas produk.
e. Kehilangan pasar.
f. Berkurangnya tingkat keselamatan kerja
g. Biaya perawatan yang lebih besar.
2. Kadaluarsa.
Kadaluarsa merupakan kehilangan keuntungan, kehandalan mesin lama yang sudah jauh ketinggalan dibandingkan dengan mesin-mesin sejenis tipe baru.
3. Inadequacy
Inadecuacy yaitu: ketidak cocokan mesin lama yang disebabkan kapasitas yang terlalu rendah. Dalam hal ini mesin/peralatan sudah tidak dapat memenuhi kapasitas sebagaimana yang diinginkan (kapasitas terlampau rendah dibandingkan dengan kebutuhan saat ini). Untuk hal ini dilakukan replacement walaupun mesin/peralatan lama masih baik. Dengan kata lain, baik tidaknya mesin yang sedang digunakan tidak jadi masalah dalam pelaksanaan replacement.
4. Rental or Lease Possibilities (Kemungkinan Penyewaan)
Karena kemajuan zaman, peralatan yang sejenis ada yang disewakan. Pada saat produksi relatif kecil, untuk menghindari biaya tetap yang besar, maka cara ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif
5. Obselescence
Ada 2 (dua) jenis obsolescence, yaitu :
a. Menurut fungsinya (Functional obsolescence)
Functional obsolescence disebabkan mesin/peralatan yang sedang digunakan tidak mampu lagi menghasilkan produk dengan kwalitas yang diinginkan pasar. Hal ini bias berakibat merosotnya permintaan terhadap produk.
b. Menurut ekonomisnya (Economic Obsolescence)Economic obsolescence disebabkan adanya mesin/peralatan baru yang lebih ekonomis dibandingkan mesin/peralatan yang lama.
Kedua hal ini akan mengakibatkan hilangnya sejumlah keuntungan apabila mesin/peralatan yang lama dipertahankan.
6. Keinginan akan perkembangan atau peningkatan
Dengan adanya keinginan akan perkembangan atau peningkatan mesin-mesin sejenis tipe baru, maka keadaannya jauh lebih baik dari sebelumnya karena dapat memenuhi syarat keakuratan, kecepatan, ataupun spesifikasi yang lainnya sesuai kebutuhan.

3.4.3. Siklus Penggantian Mesin
Siklus penggantian mesin dengan tipe yang sama disebut peremajaan mesin. Tujuan pembahasan siklus peremajaaan ini adalah untuk mendapatkan usia yang tepat dalam penggantian mesin. Total dari pengembalian odal, biaya operasi dan perawatan merupakan penilaian dasar dalam pembahasan ini. Dimana biaya pengembalian modal cenderung menurun, sementara biaya pengembalian modal cenderung menurun, sementara biaya operasi dan perawatan cenderung naik sejalan dengan pertambahan umur mesin tersebut. Usia penggantian saat biaya tahunannya minimum disebut dengan umur ekonomis mesin.
Dengan demikian umr ekonomis mesin dapat diartikan sebagai jangka waktu penggunaan ekonomis, dimana jangka waktu yang dicapai pada biaya rata-rata mempunyai harga terendah. Apabila pembahasannya menggunakan metode biaya tahunan rata-rata, maka saat peremajaan yang tepat dapat dirumuskan secara matematis, sebagai berikut:
AC(N-1) > AC(N) dan AC(N) > AC(N+1)
Dimana : AC = Annual Cost
N = Waktu peremajaan
Secara grafik dapat dilihat pada Gambar 3.1

Gambar 2.1. Hubungan antara biaya tahunan rata-rata dengan umur mesin.
Penentuan waktu umur ekonomis ini terhadap peralatan baru dilakukan dengan cara estimasi. Hasil estimasi tidaklah dipedomani langsung untuk mengambil keputusan umur ekonomis.

3.5. Metode-metode yang Digunakan
Sebagai dasar dalam melakukan evaluasi umur ekonomis terhadap mesin adalah dengan mengikuti perkembangan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mesin yang digunakan. Biaya-biaya yang diperhitungkan dalam hal ini antara lain biaya investasi, biaya operasi, perawatan, depresiasi , pajak, asuransi dan lain-lain.
Dalam perhitungan ekonomi teknik, secara teoritis ada beberapa metode yang dapat dingunakan sebagai pedoman atau petunjuk dalam mencari umur ekonomis mesin.
Metode-metode yang dapat digunakan adalah :
– Metode Present Worth.
– Metode Annual worth.
– Metode Minimum Alternatif Rate of Return ( MARR ).

3.5.1.Metode Present Worth
Metode Present Worth adalah suatu metode yang memproyeksikan seluruh penerimaan dan pengeluaran tahun n ke tahun 0 ( tahun awal ). Persamaannya adalah :
PW =
Dimana :
(P/F, i%, X ) = Faktor Presen Worth
R = Penerimaan
Q = Pengeluaran
X = Tahun ke -X
i = Suku bunga uang

3.5.2. Metoda Annual Worth
Dengan metode Annual Worth, maka semua biaya dioperasikan merata setiap tahunnya. Depresiasi yang dipakai adalah metode capital recovery.
AW = G – (O + M + CR )
CR = ( P – L ) (A / P ,i %, n ) + L I
Dimana :
( A / P, i, n ) = Capital recovery Factor
( O + M + CR ) = Annual Cost.
G = Penerimaan Kotor
CR = Capital Recover.
O = Ongkos Operasi.
P = Investasi awal.
L = Harga akhir mesin.
N = Tahun ke-n.
i = Suku bunga uang
Pemilihan alternatif yang dilakukan yaitu dengan memilih biaya tahunan (annual cost ) yang terkecil.(sumber L. Grant).
3.5.3. Metode minimum Alternatif Rate Of Return ( MARR ) .
Metode Minimum Alternatif Rate Of Return ( MARR ) digunakan untuk mencari tingkat suku bunga tahunan yaitu dalam hal ini mencari tingkat suku bunga investasi mesin.
Persamaannya adalah sebagai berikut :
MARR = ( 1 + Bunga Deposito ) ( 1 + Laju Inflasi ) – 1.
Dimana :
Bunga Deposito = Bunga uang di Bank yang berupa deposito
Laju Inflasi = Penurunan mata uang yang dikeluarkan oleh BI

3.6. Langkah – langkah Pemecahan Masalah
Untuk pemecahan masalah, maka disusun langkah-langkah sebagai berikut
3.6.1. Pengelompokan Biaya
Untuk mendapatkan saat yang terbaik dalam mengganti peralatan, diharapkan adanya pencatatan biaya yang telah dikeluarkan selama penggunaan peralatan tersebut. Untuk pemecahan masalah tersebut diatas, maka biaya-biaya dikelompokkan atas ;

A. Depresiasi
Depresiasi atau penyusutan adalah berkurangnya nilai suatu mesin setelah suatu perioda tertentu. Di tinjau dari kegunaannya, depresiasi terdiri dari 2(dua) jenis yaitu ;
– depresiasi untuk perhitungan pajak
– depresiasi untuk kalangan sendiri
Metode depresiasi yang umum digunakan adalah sebagai berikut (sumber L. Grant) :
a. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
Pada metode ini besarnya Depresiasi berbanding langsung dengan umur mesin/peralatan. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

Dimana ;
d = Depresiasi Tahunan
P = Harga Awal Mesin/peralatan
L = Harga akhir mesin/peralatan
N = umur mesin/peralatan
b. Metode Presentase Tetap (Declining Balance Method)
Metode ini sering juga disebut Metheson Formula. Perbandingan nilai depresiasi setiap tahun terhadap nilai buku pada awal tahun tersebut adalah konstan sepanjang umurnya. Perbandingan diberi notasi K.
– Besarnya depresiasi untuk tahun pertama adalah :
d1 = P . K
– Besarnya depresiasi untuk tahun ke-x adalah ;
dx = (BV x – 1) . k
– Harga akhir pada umur n tahun adalah :
Ln = P . (1- k) n
– Book Value pada tahun ke-x adalah :
BVx = P – x . d
c. Metode Jumlah Digit ( The Sum of Year Digits Method)
Metode ini biasanya diberi notasi metode SYD. Jumlah angka-angka umur mesin/peralatan tersebut merupakan penyebut dari faktor depresiasi, sedangkan pembilangnya adalah kebalikan urutan umurnya. Perhitungan dilakukan dengan persamaan berikut ;

Dimana ;
dN = Depresiasi tahunan
P = Harga awal mesin/peralatan
L = Harga akhir mesin/peralatan
n = Umur mesin/peralatan
N = Umur pakai tahunan ke-N
d. Metode Sinking Fund (The Sinking Fund Mehod)
Pada metode ini dana yang didepresiasikan pada tahun pertama lebih kecil daripada tahun berikutnya. Perhitungan dilakukan dengan persamaan berikut :
D = ( P – L ) ( A/F, i%, n )
Dimana :
D = Depresiasi Tahunan
P = Harga awal mesin
L = Harga awal mesin/peralatan
(A/F,i % n ) = Sinking Fund Factor
i = Umur pakai mesin/peralatan
B. Biaya Investasi
Biaya investasi adalah biaya pembelian mesin dan biaya pemasangan sampai mesin/peralatan tersebut dapat beroperasi. Dana Pengembalian Modal (Capital Recovery)
Menghitung capital Recovery ( CR )
– Hitung harga akhir mesin tiap tahun ( Book Value )
– Hitung CR dengan persamaan :
CR = ( P – L ) ( A/P, i %, n ) + Li
Dimana :
CR = Capital Recovery
P = Harga awal
L = Harga akhir
I = Suku bunga
N = Umur pakai mesin/peralatan
( A/P, i %, n ) = Capital Recovery Factor
C. Biaya Operasional
Biaya operasional cenderung meningkat sejalan dengan bertambahnya umur mesin/peralatan. Biaya ini meliputi penggantian spare-part yang rusak, pemakaian minyak pelumas, biaya tenaga kerja/merawat mesin/peralatan.
Biaya perawatan mencakup :
1. Pemakaian suku cadang dan minyak pelumas
Pemakaian suku cadang dan minyak pelumas cenderung meningkat sejalan dengan semakin bertambahnya umur peralatan dan harga dipasaran
2. Biaya energi
Dalam hal ini energi yang digunakan adalah energi listrik yang besar biayanya tergantung pada waktu operasi mesin dan harga energi listrik
3. Biaya perawatan dan perbaikan
Besarnya biaya perawatan dan perbaikan tergantung pada upah tenaga kerja untuk perawatan dan perbaikan tiap tahun dan waktu perawatan dan perbaikan mesin.
4. Biaya operator
Besarnya biaya operator tergantung pada upah tenaga kerja untuk operator.

D. Biaya Pajak dan Asuransi
Biaya pajak dan asuransi besarnya tergantung pada harga awal mesin/peralatan. Biaya ini merata setiap tahun dan tidak tergantung pada umur pemakaian mesin/peralatan.
E. Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja tergantung jumlah tenaga kerja yang melayani mesin. Biaya tenaga kerja ini merata setiap tahun dan tidak mempengaruhi umur ekonomis mesin.
F. Kerugian akibat berhentinya mesin ( Down Time)
Biaya ini tergantung pada besarnya jam perawatan setiap tahunnya yang meningkat dengan bertambahnya umur mesin dan biaya operator
Menghitung biaya Down Time
– Hitung rata-rata Down Time tiap tahun dengan persamaan :
rd = Σ d / n
Dimana :
Rd = Rata-rata Down Time mesin setiap tahun
Σd = Jumlah Down Time mesin sampai tahun ke-n
N = Jumlah tahun
– Hitung biaya Down Time dengan persamaan :
Bd = r d / jk X OP
Dimana : Bd = Biaya Down Time
rd = Rata – rata Down Time
jK = Jumlah tahun
OP = Biaya operator tiap tahun
3.6.2. Peramalan
Peramalan pada dasarnya merupakan dugaan atau perkiraan mengenai terjadinya suatu kejadian atau peristiwa di waktu yang akan datang dengan menggunakan teori, rumusan dan analisa-analisa berdasarkan data masa lalu. Jadi bukan sekedar dugaan belaka walaupun masih ada penyimpangan.
Secara garis besar metode peramalan dibedakan atas dua bagian yaitu :
1. metode peramalan Kualitatif
2. Metode peramalan Kuantitatif
Pada peramalan kualitatif tidak dibutuhkan identifikasi yang jelas terhadap pola dasar. Hal ini karena hasil peramalan tersebut ditentukan berdasarkan pemikiran yang bersiafat intuisi, pendapat dan pengetahuan si peramal serta pengalaman si peramal. Sedangkan peramalan kuantitatif dibutuhkan identifikasi yang jelas tentang tipe dari pola dasar. Hasil peramalan tersebut sangat tergantung pada metode yang dingunakan, peramalan kuantitatif hanya digunakan apabila 3 (tiga ) kondisi sebagai berikut :
• Adanya informasi masa lalu yang dapat digunakan.
• Infomasi tersebut dapat di kuantifikasikan ke dalam bentuk angka.
• Dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek dan pola yang akan berkelanjutan pada masa yang akan datang.
Dalam hal ini peramalan di lakukan untuk memenuhi kebutuhan data mengenai biaya-biaya pengoperasian mesin/peralatan. Adapun model peramalan yang akan digunakan adalah model deret berkala, dimana deret berkala tersebut adalah merupakan serangkaian data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk menggambarkan suatu kejadian.
Dari model deret berkala di kenal 4 ( empat ) pola data sebagai berikut :
1. Pola Horizontal.
Pola data ini terjadi apabila harga data berfluktuasi sekitar harga rata – rata dan dapat dilihat pada Gambar 2.2

Gambar 2.2. Pola horizontal
2. Pola Musiman
Pola data ini sangatlah dipengaruhi oleh musiman, dan dapat kita lihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3. Pola musiman
3. Pola Siklis
Pola data ini terjadi apabila data mempunyai gerak naik dalam jangka waktu yang lama dilihat pada Gambar 2.4

Gambar 2.4. Pola Siklis
4. Pola Trend
Pola ternd ini terjadi apabila data bergerak menaik atau menurun dalam jangka waktu yang panjang, dan dapat dilihat pada Gambar 2.5

Gambar 2.5. Pola Trend
Pemilihan teknik peramalan ini didasarkan atas bentuk pola data. Untuk peramalan pada laporan ini dingunakan pola trend. Dimana pola trend terdiri dari :
a. Trend Linier.
Bentuk persamaan umum adalah :
Yi = a + bXi
Dimana : Yi = Nilai Peramalan
Xi = Waktu
a dan b = konstan
Harga a dan b dapat diperoleh dengan rumus :
a =
b =
b. Trend Kuadratis
Bentuk persamaannya adalah :
Yi = a + bXi + c
Dimana : Yi = Nilai dari ramalan
Xi = Waktu
A dan b = Konstan
Harga a, b dan c diperoleh dengan persamaan :

c. Trend Eksponensial
Bentuk persamaannya adalah :
Yi = a(e)bx
Dimana : Yi = Nilai dari ramalan
X = Waktu
a, b dan e = Konstan
Harga-harga konstanta a dan b adalah diperoleh dengan rumusan sebagai
berikut :
b =
lna =
Dari ketiga trend peramalan di atas dapat dipilih trend yang lebih sesuai, berdasarkan jumlah MSEE (Mean Standard Error Estimation) terkecil dan koefisien korelasi yang terbesar atau paling dekat dengan 1. Mean Standard Error Estimation (MSEE) dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
MSEE =
Dimana :
MSEE = Mean Standard Error Etima
Yi = Nilai dari persamaan
= Nilai data sebenarnya
N = Banyak data
= Derajat kebebasan

3.7. Definisi Bunga dan Tingkat suku Bunga

Suku bunga biasanya di definisikan sebagai uang yang dibayarkan untuk penggunaan uang yang dipinjam. Atau secara luas, suku di definisikan sebagai pengembalian yang diperoleh dari investasi modal yang produktif. Sedangkan tingkat suku bunga bisa di definisikan sebagai rasio antara bunga yang dibebankan atau dibayar pada akhir periode waktu yang ditetapkan sebelumnya dengan uang yang dipinjamkan di awal periode. Setiap pembayaran dimasa datang atau seri pembayaran yang tepat akan membayar kembali jumlah sekarang dengan bunga yang ditetapkan adalah ekivalen dengan jumlah sekarang. Jumlah sekarang adalah nilai dari sekarang dari setiap pembayaran dimasa datang atau seri pembayaran yang tepat yang akan dibayar kembalijumlah sekarang itu dengan bunga pada tingkat yang ditetapkan.

3.7.1. Rumus dan Tabel Bunga dalam Hubungannya dengan Ekonomi Teknik
Keputusan mengenai apakah investasi yang diusulkan itu akan menguntungkan harus didasari pada perkiraan-perkiraan kejadian dimasa yang akan datang. Bahkan dalam perkiran yang paling telitipun hampir ada kesalahan dengan jumlah yang sebenarnya yang terjadi. Keputusan-keputusan yang berhubungan dengan ekonomi harus didasari pada perkiraan pendahuluan yang dibuat dalam rencana sebelumnya yang mungkin mengandung bahaya besar.
Untuk alasan ini perlu ketelitian yang besar biasanya tidak diperlukan dalam analisa ekonomi teknik, misalnya jika perhitungan ongkos mempunyai kesalahan sebesar 5%, tidak perlu melaksanakan perhitungan bunga sampai 7 angka dibelakang koma, seperti yang biasa dilakukan. Tabel bunga yang mempunyai tiga angka dibelakang koma cukup untuk perhitungan dalam perhitungan ekonomi teknik.
Dalam memecahkan setiap persoalan bunga, perlu diketahuibahwa berbagai unsur persoalan itu( i, n, P, F, dan A ) adalh diketahui atau dicari. Hal ini adalah langkah pertama dalam setiap pemecahan dan langsung terdapat dalam setiap persoalan .
Rumus-rumus bunga fundamental yang menyatakan hubungan di antara P, F, dan A dalam bentuk i dan n adalah sebagai berikut :
F = P ( P/F, i %, n ) adalah single paymen compound amount factor ( factor jumlah majemuk pembayaran tunggal )
P = F ( P/F, i %, n ) adalah single payment presen worth factor (faktor nilai sekarang pembayaran tunggal ).
A = F ( A/F, i %, n ) adalah singkin fund factor (factor penyimpanan dan )
A = P (A/P, i %, n ) adalah capital recovery factor (factor pengembalian modal )
F = A ( F/A, I %, n ) adalah uniform series compound amount factor ( factor jumlah majemuk seri yang sama )
P = A ( P/A, I %, n ) adalah uniform series present worth factor ( factor nilai sekarang seri yang sama ).
Pemecahan persoalan sangat dipermudah dengan bantuan tabel bunga yang memberikan nilai faktor jumlah majemuk pembayaran tunggal , faktor nilai sekarang pembayaran tunggal, faktor dana tetap, factor pengembalian modal faktor jumlah majemuk seri uniform faktor nilai sekarang seri uniform. Jika pembayaran yang diketahui( P, F, atau A ) dalam setiap satuan yang diinginkan, faktor dari tabel bunga menunjukkan pembayaran yang harus dicari.

3.7.2. Pemilihan Rate of return Minimum yang menguntungkan ( Minimum Attractive Rate of Return )
Rate of return yang menguntungkan yang dingunakan dalam menilai apakah suatu usulan investasi menguntungkan biasanya adalah sebuah persoalan kebijaksanaan yang harus ditentukan oleh manajeman puncak dari sutu organisasi dan dasar untuk menetapkannya sangat bervariasi. Karena bunga yang dingunakan merupakan pertimbangan keputusan-keputusan yang mempengaruhi kesejahteraan organisasi untuk jangka panjang akan diambil berdasarkan kepada perbandingan rate of return dari investasi-investasi usulan . penentuan tingkat bunga uang yang akan dingunakan dalam proses pengambilan keputusan semua didasarkan pada kriteria yang lebih utama dan menjamin penggunaan yang terbaik dari dana yang tersedia.
Faktor-faktor yang biasanya dipertimbangkan dalam penetuan tingkat bunga yang dingunakan selama periode waktu tertentu adalah :
1. tersedianya dana untuk investasi dan sumber-sumbernya , modal sendiri atau pinjaman .
2. perbedaan dalam resiko yng terlibat dalam kesempatan investasi yang bersaing.
3. perbedaaan-perbedaan dalam waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian investasi dengan rate of return yang diinginkan.
4. Harga uang yang berlaku yang dinyatakan oleh tingkat suku bunga yang dibayarkan atau yang dibebankan pada investasi tersebut seperti rekening tabungan yang dingunakan oleh bank-bank besar, surat-surat berharga, dan obligasi-obligasi.
Kondisi ekonomi, undang-undang pajak, kesempatan investasi, tersedianya uang, tingkat bunga dan perkiraan-perkiraan mengenai iklim ekonomi dimasa datang adalah merupakan subjek yang berubah setiap saat. Yang terbaik dilakukan adalah mencoba menjelaskan arti berbagai faktor-faktor keputusan yang termasuk dalam penetuan tingkat bunga untuk menunjukkan bagaimana faktor ini dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan.

3.8. Perhitungan Total Biaya Tahunan Rata – rata
Untuk biaya – biaya yang berfluktasi setiap tahun, biaya-biaya tersebut dihitung dengan cara sebagai berikut :
a. Menghitung Capital Recovery (CR).
– Hitung harga akhir mesin tiap tahun (Book Value).
– Hitung CR dengan persamaan :
CR = (P – L) (A/P, i%,n) + Li
Dimana :
CR = Capital Recovery
P = Harga Awal
L = Harga Akhir
i = Suku Bunga
n = Umur Pakai Mesin/Peralatan
(A/P, i%, n) = Capital Recovery Factor
b. Menghitung biaya down time.
– Hitung down time mesin tiap tahun.
– Hitung rata-ratanya tiap tahun dengan persamaan :
rd =
Dimana :
rd = Rata-rata down time mesin setiap tahun.
= Jumlah down time mesin setiap tahun ke -n
n = Jumlah tahun.
– Hitung biaya down time dengan persamaan:
Bd = r d / j k X MARR
Dimana :
Bd = Biaya down time.
rd = Rata-rata down time.
j k = Jam kerja per tahun.
CR = Capital Recovery.
– Hitung biaya down time mesin untuk tahun yang akan datang dihitung dengan peramalan yang dipilih.
c. Menghitung biaya operasi tahun rata-rata
– Hitung biaya operasi setiap tahun.
– Hitung biaya operasi tahunan yang akan datang dengan peramalan yang dipilih.
– Tentukan Present Value dari total biaya tiap tahun ke tahun nol yaitu dengan cara mengalikan biaya dengan faktor Present Worth (P/F, i%, n)
– Hitung kumulatif biaya Present Value di atas.
– Untuk mendapatkan biaya tahunan rata-rata kalikan kumulatif biaya tiap tahun dengan faktor Capital Recovery (A/P, i%, n).
– Hasil yang diperoleh merupakan ekivalensi dari biaya operasi tahunan rata-rata tahunannya.
d. Menghitung total biaya tahunan rata-rata.
Jumlah semua elemen biaya di atas (Capital Recovery), biaya Down Time dan biaya operasional rata-rata.
Total biaya tahunan rata-rata dihitung dengan rumus:
Total biaya tahunan rata-rata = Biaya operasional tahunan rata-rata + Biaya Down time + Capital Recovery

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Pendekatan Masalah
Adapun metode pendekatan yang dilakukan dalam pemecahan masalah ini didasarkan kepada umur paling ekonomis mesin yang perhitungannya dilakukan dengan cara perhitungan biaya tahunan rata-rata.
Serangkaian kegiatan yang akan dilakukan dalam pengumpulan data, antara lain :
a. Pengamatan langsung terhadap objek penelitian.
b. Wawancara dengan berbagai pihak atau departemen di pabrik.
c. Mencatat dan mempelajari data historis yaitu berkas-berkas data yang berkaitan dengan mesin
Adapun data yang dikumpulkan meliputi :
– Sejarah dan gambaran umum perusahaan
– Organisasi dan manajemen
– Gambaran umum kegiatan produksi
– Spesifikasi Seal Machine
– Data biaya operasional
– Data biaya suku cadang dan pelumas
– Data pemakaian energi listrik dan harga energi listrik
– Upah tenaga kerja untuk operator, perawatan dan perbaikan
– Waktu operasi, waktu perawatan dan perbaikan
– Data Inflasi
4.2. Pembatasan Masalah
Supaya pembahasan yang akan dilakukan dapat menuju sasarannya perlu di buat beberapa batasan masalah sebagai berikut :
– Mesin-mesin yang akan dibahas dalam studi ini adalah Seal Machine. Cara pengoperasian dan perawatan mesin-mesin yang diterapkan perusahaan dianggap sesuai dengan ketentuan standar dan diluar pembahasan dari studi ini.
– Tingkat bunga uang yang digunakan dalam penyelesaian permasalahan di ambil bunga deposito tahun 2006.

4.3. Langkah-langkah Penelitian
Untuk memecahkan masalah dalam tugas ini, digunakan pendekatan-pendekatan pemecahan masalah dengan menggunakan metode-metode. Adapun metode pendekatan yang dilakukan dalam pemecahan masalah ini didasarkan kepada umur paling ekonolis mesin yang perhitungannya dilakukan dengan cara biaya tahunan rata-rata terkecil.
1. Menentukan investasi mesin
Dalam hal ini harga awal adalah harga mesin pada saat dibeli, biaya pemasangan sampai mesin dapat beroperasi secara normal. Serta dihitung harga akhir dan Capital Recovery-nya
2. Menentukan biaya-biaya operasional mesin :
– Data Pemakaian Suku cadang dan Pelumas
– Dari pemakaian sejumlah spare part dan minyak pelumas ini diperoleh jumlah biaya pemakaian setiap bulan
– Data biaya energi yaitu energi listrik
– Biaya Operator
3. Data Waktu
– Waktu Operasi
– Jam operasi mesin adalah jumlah waktu mesin beroperasi selama setahun
– Waktu perbaikan dan perawatan
Waktu perawatan adalah waktu mesin menjalani perawatan diluar masa sealing polybag udang. Perbaikan dibedakan dengan perawatan. Waktu perbaikan merupakan lama mesin tidak beroperasi selama mesin menjalani perbaikan
4. Pengolahan data
Setelah data-data didapat maka dilakukan pengolahan data dengan mencari perhitungan biaya pengembalian modal, perhitungan biaya suku cadang dan pelumas, biaya energi, biaya perawatan, biaya operator dan biaya down time. Perhitungan biaya operasi dan down time tahunan rata-rata
Setelah data-data di atas diolah kemudian dilakukan penganalisaan biaya operasi dan down time tersebut lalu diramalkan sesuai tahun yang diinginkan

5. Perhitungan umur paling ekonomis
Dari hasil penganalisaan diatas dapat dicari pada tahun ke berapa mesin tersebut paling ekonomis digunakan dan berapa biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan
Secara garis besar, tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian ini dapat di lihat pada Gambar 4.1. berikut:

Gambar 4.1. Tahapan Proses Penelitian

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1. Pendahuluan
Setiap perusahaan industri dalam melaksanakan programnya selalu saja di jumpai berbagai persoalan, tentu semua persoalan itu harus dapat dipecahkan dengan bijaksana. Maka untuk dapat memecahkan semua persoalan itu dibutuhkan seorang pimpinan yang bijaksana dalam mengambil keputusan
Salah satu dari berbagai persoalan itu diantaranya adalah dalam hal penggunaan peralatan, apakah peralatan lama tetap dipakai dengan melakukan beberapa perbaikan-perbaikan atau lebih baik menggantinya dengan peralatan-peralatan baru. Agar masalah itu benar-benar dapat diselesaikan dan disimpulkan maka ketelitian mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi suatu masalah sangat penting dalam pengambilan keputusan.
Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat maka perlu diadakan studi terhadap pemakaian mesin dan peralatan.

3.2. Pengertian Ekonomi Teknik
Ekonomi teknik semakin berperan dalam bidang keteknikan sebagai tuntutan dari perkembangan ilmu dan teknologi. Seorang pengambil keputusan dihadapkan kepada alternatif rancangan (design) atau pemecahan suatu masalah yang lain yang semakin kompleks dimana satu diantaranya harus dipilih. ekonomi teknik merupakan salah satu alat ampuh untuk menentukan pilihan tersebut dimana aspek teknis dan aspek ekonomis dikaji secara bersamaan. Studie ekonomi teknik dilaksanakan untuk menemukan dan mengevaluasi pilihan yang tersedia. Studi ini menjelaskan ada sejumlah alternatif yang lebih ekonomis dibanding alternatif yang ada.
Studi ekonomi teknik dapat didefinisikan sebagai sebuah perbandingan antara alternatif-alternatif dimana perbedaan diantara alternatif itu dinyatakan dalam bentuk uang. Persoalan pokok yang dibicarakan dalam ekonomi teknik adalah bagaimana kita bisa menilai apakah tindakan yang diusulkan itu akan terbukti ekonomis untuk jangka panjang jika dibandingakan dengan altenatif-alternatif yang mungkin. Penilaian tersebut tidak bida didasarkan pada perasaan hal ini harus dipecahkan dengan sebuah studi ekonomi teknik.

3.3. Konsep Umur Ekonomis Mesin
Setiap perusahaan, baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar yang menggunakan mesin atau peralatan dalam menjalankan usahanya, selalu dihadapkan kepada masalah apakah mesin/peralatan yang digunakan masih dapat terus dioperasikan atau apakah mesin/peralatan yang baru akan lebih ekonomis untuk segera dimiliki. Seorang pimpinan perusahaan harus mampu mengambil keputusan untuk mempertahankan mesin yang sudah ada atau menggantinya dengan mesin yang baru. Keputusan tentang masalah ini harus dibuat hati-hati serta seirama dengan perubahan dan perkembangan teknologi.
Masalah ini dapat dipecahkan dengan suatu studi yang disebut dengan replacement study. Dengan kata lain replacement study dapat diartikan sebagai suatu studi yang dilakukan sehubungan dengan persoalan-persoalan pergantian mesin/peralatan. Replacement study juga merupakan bagian dari studi pemilihan alternatif, hanya di dalam replacement study alternatifnya adalah mempertahankan mesin/peralatan yang ada atau menggantinya dengan mesin/peralatan yang baru.
Siklus penggantian peralatan dengan peralatan yang sejenis sering dibuat peremajaan. Dalam hal peremajaan, penilaian didasarkan kepada kombinasi biaya pengembalian modal dan kenaikan biaya operasi. Semakin bertambah umur mesin/peralatan mengakibatkan total biaya operasi akan menaik. Peremajaan mesin/peralatan dilakukan pada saat total biaya tahunan rata-ratanya minimum yang disebut dengan umur ekonomis.

3.4. Dasar Replacement Study
Replacement study biasanya dirancang untuk membuat suatu keputusan ekonomis apakah mempertahankan mesin yang sudah ada atau menggantinya sekarang. Jika keputusan yang diambil adalah mengganti mesin yang sudah ada, maka keputusan tersebut selesai. Tetapi jika keputusannya adalah mempertahankan mesin yang telah ada sebelumnya, maka estimasi biaya akan ditinjau kembali beberapa tahun kemudian untuk memastikan bahwa keputusan untuk mempertahankan mesin masih ekonomis.

3.4.1. Alasan Pentingnya Replacement Study
Adapun beberapa alasan yang menyebabkan pergantian mesin, yaitu:
1. Daya mesin yang telah berkurang dikarenakan kemorosotan fisik (Physical Impairment).
Hal ini disebabkan karena pemakaian mesin yang tidak normal, kecelakaan atau memang umur mesin yang semakin tua. Sehingga mesin tidak mampu lagi menghasilkan produksi dengan kualitas dan kuantitas seprti yang diinginkan. Jika mesin tersebut tidak diganti maka akan mengakibatkan :
a. Biaya operasi yang meningkat.
b. Scrap yang lebih tinggi.
c. Biaya untuk pengerjaan ulang (rework cost) semakin besar.
d. Penurunan kualitas produk.
e. Kehilangan pasar.
f. Berkurangnya tingkat keselamatan kerja
g. Biaya perawatan yang lebih besar.
2. Kadaluarsa.
Kadaluarsa merupakan kehilangan keuntungan, kehandalan mesin lama yang sudah jauh ketinggalan dibandingkan dengan mesin-mesin sejenis tipe baru.
3. Inadequacy
Inadecuacy yaitu: ketidak cocokan mesin lama yang disebabkan kapasitas yang terlalu rendah. Dalam hal ini mesin/peralatan sudah tidak dapat memenuhi kapasitas sebagaimana yang diinginkan (kapasitas terlampau rendah dibandingkan dengan kebutuhan saat ini). Untuk hal ini dilakukan replacement walaupun mesin/peralatan lama masih baik. Dengan kata lain, baik tidaknya mesin yang sedang digunakan tidak jadi masalah dalam pelaksanaan replacement.

4. Rental or Lease Possibilities (Kemungkinan Penyewaan)
Karena kemajuan zaman, peralatan yang sejenis ada yang disewakan. Pada saat produksi relatif kecil, untuk menghindari biaya tetap yang besar, maka cara ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif
5. Obselescence
Ada 2 (dua) jenis obsolescence, yaitu :
a. Menurut fungsinya (Functional obsolescence)
Functional obsolescence disebabkan mesin/peralatan yang sedang digunakan tidak mampu lagi menghasilkan produk dengan kwalitas yang diinginkan pasar. Hal ini bias berakibat merosotnya permintaan terhadap produk.
b. Menurut ekonomisnya (Economic Obsolescence) economic obsolescence disebabkan adanya mesin/peralatan baru yang lebih ekonomis dibandingkan mesin/peralatan yang lama.
Kedua hal ini akan mengakibatkan hilangnya sejumlah keuntungan apabila mesin/peralatan yang lama dipertahankan.
6. Keinginan akan perkembangan atau peningkatan
Dengan adanya keinginan akan perkembangan atau peningkatan mesin-mesin sejenis tipe baru, maka keadaannya jauh lebih baik dari sebelumnya karena dapat memenuhi syarat keakuratan, kecepatan, ataupun spesifikasi yang lainnya sesuai kebutuhan.

3.4.2. Siklus Penggantian Mesin
Siklus penggantian mesin dengan tipe yang sama disebut peremajaan mesin. Tujuan pembahasan siklus peremajaaan ini adalah untuk mendapatkan usia yang tepat dalam penggantian mesin. Total dari pengembalian odal, biaya operasi dan perawatan merupakan penilaian dasar dalam pembahasan ini. Dimana biaya pengembalian modal cenderung menurun, sementara biaya pengembalian modal cenderung menurun, sementara biaya operasi dan perawatan cenderung naik sejalan dengan pertambahan umur mesin tersebut. Usia penggantian saat biaya tahunannya minimum disebut dengan umur ekonomis mesin.
Dengan demikian umur ekonomis mesin dapat diartikan sebagai jangka waktu penggunaan ekonomis, dimana jangka waktu yang dicapai pada biaya rata-rata mempunyai harga terendah. Apabila pembahasannya menggunakan metode biaya tahunan rata-rata, maka saat peremajaan yang tepat dapat dirumuskan secara matematis, sebagai berikut:
AC(N-1) > AC(N) dan AC(N) > AC(N+1)
Dimana : AC = Annual Cost
N = Waktu peremajaan
Secara grafik dapat di lihat pada Gambar 3.1

Gambar 3.1. Hubungan antara biaya tahunan rata-rata dengan umur mesin.
Penentuan waktu umur ekonomis ini terhadap peralatan baru dilakukan dengan cara estimasi. Hasil estimasi tidaklah dipedomani langsung untuk mengambil keputusan umur ekonomis.

3.5. Metode-metode yang Digunakan
Sebagai dasar dalam melakukan evaluasi umur ekonomis terhadap mesin adalah dengan mengikuti perkembangan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mesin yang digunakan. Biaya-biaya yang diperhitungkan dalam hal ini antara lain biaya investasi, biaya operasi, perawatan, depresiasi , pajak, asuransi dan lain-lain.
Dalam perhitungan ekonomi teknik, secara teoritis ada beberapa metode yang dapat dingunakan sebagai pedoman atau petunjuk dalam mencari umur ekonomis mesin.
Metode-metode yang dapat digunakan adalah :
– Metode Present Worth.
– Metode Annual worth.
– Metode Minimum Alternatif Rate of Return ( MARR ).

3.5.1.Metode Present Worth
Metode Present Worth adalah suatu metode yang memproyeksikan seluruh penerimaan dan pengeluaran tahun n ke tahun 0 ( tahun awal ). Persamaannya adalah :
PW =
Dimana :
(P/F, i%, X ) = Faktor Presen Worth
R = Penerimaan
Q = Pengeluaran
X = Tahun ke -X
i = Suku bunga uang

3.5.2. Metoda Annual Worth
Dengan metode Annual Worth, maka semua biaya dioperasikan merata setiap tahunnya. Depresiasi yang dipakai adalah metode capital recovery.
AW = G – (O + M + CR )
CR = ( P – L ) (A / P ,i %, n ) + L I
Dimana :
( A / P, i, n ) = Capital recovery Factor
( O + M + CR ) = Annual Cost.
G = Penerimaan Kotor
CR = Capital Recover.
O = Ongkos Operasi.
P = Investasi awal.
L = Harga akhir mesin.
N = Tahun ke-n.
i = Suku bunga uang
Pemilihan alternatif yang dilakukan yaitu dengan memilih biaya tahunan (annual cost ) yang terkecil.(sumber L. Grant).

3.5.3 Metode minimum Alternatif Rate Of Return ( MARR ) .
Metode Minimum Alternatif Rate Of Return ( MARR ) digunakan untuk mencari tingkat suku bunga tahunan yaitu dalam hal ini mencari tingkat suku bunga investasi mesin.
Persamaannya adalah sebagai berikut :
MARR = ( 1 + Bunga Deposito ) ( 1 + Laju Inflasi ) – 1.
Dimana :
Bunga Deposito = Bunga uang di Bank yang berupa deposito
Laju Inflasi = Penurunan mata uang yang dikeluarkan oleh BI

3.6. Langkah – langkah Pemecahan Masalah
Untuk pemecahan masalah, maka disusun langkah-langkah sebagai berikut
3.6.1. Pengelompokan Biaya
Untuk mendapatkan saat yang terbaik dalam mengganti peralatan, diharapkan adanya pencatatan biaya yang telah dikeluarkan selama penggunaan peralatan tersebut. Untuk pemecahan masalah tersebut diatas, maka biaya-biaya dikelompokkan atas ;
A. Depresiasi
Depresiasi atau penyusutan adalah berkurangnya nilai suatu mesin setelah suatu perioda tertentu. Di tinjau dari kegunaannya, depresiasi terdiri dari 2(dua) jenis yaitu ;
– depresiasi untuk perhitungan pajak
– depresiasi untuk kalangan sendiri
Metode depresiasi yang umum digunakan adalah sebagai berikut (sumber L. Grant) :
a. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
Pada metode ini besarnya Depresiasi berbanding langsung dengan umur mesin/peralatan. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

Dimana ;
d = Depresiasi Tahunan
P = Harga Awal Mesin/peralatan
L = Harga akhir mesin/peralatan
N = umur mesin/peralatan
b. Metode Presentase Tetap (Declining Balance Method)
Metode ini sering juga disebut Metheson Formula. Perbandingan nilai depresiasi setiap tahun terhadap nilai buku pada awal tahun tersebut adalah konstan sepanjang umurnya. Perbandingan diberi notasi K.
Harga akhir pada umur n tahun adalah :
Ln = P . (1- k) n ; k = 2/ n
c. Metode Jumlah Digit ( The Sum of Year Digits Method)
Metode ini biasanya diberi notasi metode SYD. Jumlah angka-angka umur mesin/peralatan tersebut merupakan penyebut dari faktor depresiasi, sedangkan pembilangnya adalah kebalikan urutan umurnya. Perhitungan dilakukan dengan persamaan berikut ;

Dimana ;
dN = Depresiasi tahunan
P = Harga awal mesin/peralatan
L = Harga akhir mesin/peralatan
n = Umur mesin/peralatan
N = Umur pakai tahunan ke-N
d. Metode Sinking Fund (The Sinking Fund Mehod)
Pada metode ini dana yang didepresiasikan pada tahun pertama lebih kecil daripada tahun berikutnya. Perhitungan dilakukan dengan persamaan berikut :
D = ( P – L ) ( A/F, i%, n )
Dimana :
D = Depresiasi Tahunan
P = Harga awal mesin
L = Harga awal mesin/peralatan
(A/F,i % n ) = Sinking Fund Factor
i = Umur pakai mesin/peralatan
B. Biaya Investasi
Biaya investasi adalah biaya pembelian mesin dan biaya pemasangan sampai mesin/peralatan tersebut dapat beroperasi. Dana Pengembalian Modal (Capital Recovery)
Menghitung capital Recovery ( CR )
– Hitung harga akhir mesin tiap tahun ( Book Value )
– Hitung CR dengan persamaan :
CR = ( P – L ) ( A/P, i %, n ) + Li
Dimana :
CR = Capital Recovery
P = Harga awal
L = Harga akhir
I = Suku bunga
N = Umur pakai mesin/peralatan
( A/P, i %, n ) = Capital Recovery Factor
C. Biaya Operasional
Biaya operasional cenderung meningkat sejalan dengan bertambahnya umur mesin/peralatan. Biaya ini meliputi penggantian spare-part yang rusak, pemakaian minyak pelumas, biaya tenaga kerja/merawat mesin/peralatan.
Biaya perawatan mencakup :
1. Pemakaian suku cadang dan minyak pelumas
Pemakaian suku cadang dan minyak pelumas cenderung meningkat sejalan dengan semakin bertambahnya umur peralatan dan harga dipasaran
2. Biaya energi
Dalam hal ini energi yang digunakan adalah energi listrik yang besar biayanya tergantung pada waktu operasi mesin dan harga energi listrik
3. Biaya perawatan dan perbaikan
Besarnya biaya perawatan dan perbaikan tergantung pada upah tenaga kerja untuk perawatan dan perbaikan tiap tahun dan waktu perawatan dan perbaikan mesin.
4. Biaya operator
Besarnya biaya operator tergantung pada upah tenaga kerja untuk operator.
D. Biaya Pajak dan Asuransi
Biaya pajak dan asuransi besarnya tergantung pada harga awal mesin/peralatan. Biaya ini merata setiap tahun dan tidak tergantung pada umur pemakaian mesin/peralatan.
E. Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja tergantung jumlah tenaga kerja yang melayani mesin. Biaya tenaga kerja ini merata setiap tahun dan tidak mempengaruhi umur ekonomis mesin.
F. Kerugian akibat berhentinya mesin ( Down Time)
Biaya ini tergantung pada besarnya jam perawatan setiap tahunnya yang meningkat dengan bertambahnya umur mesin dan biaya operator
Menghitung biaya Down Time
– Hitung rata-rata Down Time tiap tahun dengan persamaan :
rd = Σ d / n
Dimana :
Rd = Rata-rata Down Time mesin setiap tahun
Σd = Jumlah Down Time mesin sampai tahun ke-n
N = Jumlah tahun
– Hitung biaya Down Time dengan persamaan :
Bd = r d / jk X OP
Dimana : Bd = Biaya Down Time
rd = Rata – rata Down Time
jK = Jumlah tahun
OP = Biaya operator tiap tahun

3.6.2. Peramalan
Peramalan pada dasarnya merupakan dugaan atau perkiraan mengenai terjadinya suatu kejadian atau peristiwa di waktu yang akan datang dengan menggunakan teori, rumusan dan analisa-analisa berdasarkan data masa lalu. Jadi bukan sekedar dugaan belaka walaupun masih ada penyimpangan.
Secara garis besar metode peramalan dibedakan atas dua bagian yaitu :
1. metode peramalan Kualitatif
2. Metode peramalan Kuantitatif
Pada peramalan kualitatif tidak dibutuhkan identifikasi yang jelas terhadap pola dasar. Hal ini karena hasil peramalan tersebut ditentukan berdasarkan pemikiran yang bersiafat intuisi, pendapat dan pengetahuan si peramal serta pengalaman si peramal. Sedangkan peramalan kuantitatif dibutuhkan identifikasi yang jelas tentang tipe dari pola dasar. Hasil peramalan tersebut sangat tergantung pada metode yang dingunakan, peramalan kuantitatif hanya digunakan apabila 3 (tiga ) kondisi sebagai berikut :
• Adanya informasi masa lalu yang dapat digunakan.
• Infomasi tersebut dapat di kuantifikasikan ke dalam bentuk angka.
• Dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek dan pola yang akan berkelanjutan pada masa yang akan datang.
Dalam hal ini peramalan di lakukan untuk memenuhi kebutuhan data mengenai biaya-biaya pengoperasian mesin/peralatan. Adapun model peramalan yang akan digunakan adalah model deret berkala, dimana deret berkala tersebut adalah merupakan serangkaian data yang di kumpulkan dari waktu ke waktu untuk menggambarkan suatu kejadian.
Dari model deret berkala di kenal 4 ( empat ) pola data sebagai berikut :
1. Pola Horizontal.
Pola data ini terjadi apabila harga data berfluktuasi sekitar harga rata-rata dan dapat di lihat pada Gambar 3.2

Gambar 3.2. Pola horizontal
2. Pola Musiman
Pola data ini sangatlah dipengaruhi oleh musiman, dan dapat kita lihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Pola musiman
3. Pola Siklis
Pola data ini terjadi apabila data mempunyai gerak naik dalam jangka waktu yang lama di lihat pada Gambar 2.4

Gambar 2.4. Pola Siklis
4. Pola Trend
Pola ternd ini terjadi apabila data bergerak menaik atau menurun dalam jangka waktu yang panjang, dan dapat di lihat pada Gambar 2.5

Gambar 3.5. Pola Trend
Pemilihan teknik peramalan ini didasarkan atas bentuk pola data. Untuk peramalan pada laporan ini dingunakan pola trend. Dimana pola trend terdiri dari :
a. Trend Linier.
Bentuk persamaan umum adalah :
Yi = a + bXi
Dimana : Yi = Nilai Peramalan
Xi = Waktu
a dan b = konstan
Harga a dan b dapat diperoleh dengan rumus :
a =
b =
b. Trend Kuadratis
Bentuk persamaannya adalah :
Yi = a + bXi + c
Dimana : Yi = Nilai dari ramalan
Xi = Waktu
A dan b = Konstan
Harga a, b dan c diperoleh dengan persamaan :

c. Trend Eksponensial
Bentuk persamaannya adalah :
Yi = a(e)bx
Dimana : Yi = Nilai dari ramalan
X = Waktu
a, b dan e = Konstan
Harga-harga konstanta a dan b adalah diperoleh dengan rumusan sebagai
berikut :
b =
lna =
Dari ketiga trend peramalan di atas dapat dipilih trend yang lebih sesuai, berdasarkan jumlah MSEE (Mean Standard Error Estimation) terkecil dan koefisien korelasi yang terbesar atau paling dekat dengan 1. Mean Standard Error Estimation (MSEE) dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
MSEE =
Dimana :
MSEE = Mean Standard Error Etima
Yi = Nilai dari persamaan
= Nilai data sebenarnya
N = Banyak data
= Derajat kebebasan

3.7. Definisi Bunga dan Tingkat suku Bunga

Suku bunga biasanya didefinisikan sebagai uang yang dibayarkan untuk penggunaan uang yang dipinjam. Atau secara luas, suku didefinisikan sebagai pengembalian yang diperoleh dari investasi modal yang produktif. Sedangkan tingkat suku bunga bisa didefinisikan sebagai rasio antara bunga yang dibebankan atau dibayar pada akhir periode waktu yang ditetapkan sebelumnya dengan uang yang dipinjamkan di awal periode. Setiap pembayaran dimasa datang atau seri pembayaran yang tepat akan membayar kembali jumlah sekarang dengan bunga yang ditetapkan adalah ekivalen dengan jumlah sekarang. Jumlah sekarang adalah nilai dari sekarang dari setiap pembayaran dimasa yang akan datang atau seri pembayaran yang tepat yang dibayar kembali jumlah sekarang itu dengan bunga pada tingkat yang ditetapkan.

3.7.1. Rumus dan Tabel Bunga dalam Hubungannya dengan Ekonomi Teknik
Keputusan mengenai apakah investasi yang diusulkan itu akan menguntungkan harus didasari pada perkiraan-perkiraan kejadian dimasa yang akan datang. Bahkan dalam perkiran yang paling telitipun hampir ada kesalahan dengan jumlah yang sebenarnya yang terjadi. Keputusan-keputusan yang berhubungan dengan ekonomi harus didasari pada perkiraan pendahuluan yang dibuat dalam rencana sebelumnya yang mungkin mengandung bahaya besar.
Untuk alasan ini perlu ketelitian yang besar biasanya tidak diperlukan dalam analisa ekonomi teknik, misalnya jika perhitungan ongkos mempunyai kesalahan sebesar 5%, tidak perlu melaksanakan perhitungan bunga sampai 7 angka dibelakang koma, seperti yang biasa dilakukan. Tabel bunga yang mempunyai empat angka di belakang koma cukup untuk perhitungan dalam perhitungan ekonomi teknik.
Dalam memecahkan setiap persoalan bunga, perlu diketahui bahwa berbagai unsur persoalan itu( i, n, P, F, dan A ) adalah diketahui atau dicari. Hal ini adalah langkah pertama dalam setiap pemecahan dan langsung terdapat dalam setiap persoalan .
Rumus-rumus bunga fundamental yang menyatakan hubungan di antara P, F, dan A dalam bentuk i dan n adalah sebagai berikut :
F = P ( P/F, i %, n ) adalah single paymen compound amount factor ( factor jumlah majemuk pembayaran tunggal )
P = F ( P/F, i %, n ) adalah single payment presen worth factor (faktor nilai sekarang pembayaran tunggal ).
A = F ( A/F, i %, n ) adalah singking fund factor (factor penyimpanan dan )
A = P (A/P, i %, n ) adalah capital recovery factor (factor pengembalian modal )
F = A ( F/A, I %, n ) adalah uniform series compound amount factor ( factor jumlah majemuk seri yang sama )
P = A ( P/A, I %, n ) adalah uniform series present worth factor ( factor nilai sekarang seri yang sama ).
Pemecahan persoalan sangat dipermudah dengan bantuan tabel bunga yang memberikan nilai faktor jumlah majemuk pembayaran tunggal , faktor nilai sekarang pembayaran tunggal, faktor dana tetap, factor pengembalian modal faktor jumlah majemuk seri uniform faktor nilai sekarang seri uniform. Jika pembayaran yang diketahui ( P, F, atau A ) dalam setiap satuan yang diinginkan, faktor dari tabel bunga menunjukkan pembayaran yang harus dicari.

3.7.2. Pemilihan Rate of return Minimum yang menguntungkan ( Minimum Attractive Rate of Return )
Rate of return yang menguntungkan yang dingunakan dalam menilai apakah suatu usulan investasi menguntungkan biasanya adalah sebuah persoalan kebijaksanaan yang harus ditentukan oleh manajeman puncak dari sutu organisasi dan dasar untuk menetapkannya sangat bervariasi. Karena bunga yang dingunakan merupakan pertimbangan keputusan-keputusan yang mempengaruhi kesejahteraan organisasi untuk jangka panjang akan di ambil berdasarkan kepada perbandingan rate of return dari investasi-investasi usulan . penentuan tingkat bunga uang yang akan dingunakan dalam proses pengambilan keputusan semua didasarkan pada kriteria yang lebih utama dan menjamin penggunaan yang terbaik dari dana yang tersedia.
Faktor-faktor yang biasanya dipertimbangkan dalam penetuan tingkat bunga yang dingunakan selama periode waktu tertentu adalah :
1. tersedianya dana untuk investasi dan sumber-sumbernya , modal sendiri atau pinjaman .
2. perbedaan dalam resiko yng terlibat dalam kesempatan investasi yang bersaing.
3. perbedaaan-perbedaan dalam waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian investasi dengan rate of return yang diinginkan.
4. Harga uang yang berlaku yang dinyatakan oleh tingkat suku bunga yang dibayarkan atau yang dibebankan pada investasi tersebut seperti rekening tabungan yang digunakan oleh bank-bank besar, surat-surat berharga, dan obligasi-obligasi.
Kondisi ekonomi, undang-undang pajak, kesempatan investasi, tersedianya uang, tingkat bunga dan perkiraan-perkiraan mengenai iklim ekonomi dimasa datang adalah merupakan subjek yang berubah setiap saat. Yang terbaik dilakukan adalah mencoba menjelaskan arti berbagai faktor-faktor keputusan yang termasuk dalam penetuan tingkat bunga untuk menunjukkan bagaimana faktor ini dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan.

3.7.3. Pengertian Pajak
Menurut Prof. Dr. P. J. A. Andriani yang diterjemahkan oleh R. Santoso Brotodiharjo, sh dalam buku “pengantarilmu hukum pajak”(1991:2).
“Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum yang berhubungan dengan tugas negara yang menyelenggarakan pemerintahan.”

3.8. Perhitungan Total Biaya Tahunan Rata-rata

Untuk biaya-biaya yang berfluktasi setiap tahun, biaya-biaya tersebut di hitung dengan cara sebagai berikut :
a. Menghitung Capital Recovery (CR).
– Hitung harga akhir mesin tiap tahun (Book Value).
– Hitung CR dengan persamaan :
CR = (P – L) (A/P, i%,n) + Li
Dimana :
CR = Capital Recovery
P = Harga Awal
L = Harga Akhir
i = Suku Bunga
n = Umur Pakai Mesin/Peralatan
(A/P, i%, n) = Capital Recovery Factor
b. Menghitung biaya down time.
– Hitung down time mesin tiap tahun.
– Hitung rata-ratanya tiap tahun dengan persamaan :
rd =
Dimana :
rd = Rata-rata down time mesin setiap tahun.
= Jumlah down time mesin setiap tahun ke -n
n = Jumlah tahun.
– Hitung biaya down time dengan persamaan:
Bd = r d / j k X OP
Dimana :
Bd = Biaya down time.
rd = Rata-rata down time.
j k = Jam kerja per tahun.
CR = Capital Recovery.
OP = Biaya operator
– Hitung biaya down time mesin untuk tahun yang akan datang dihitung dengan peramalan yang di pilih.
c. Menghitung biaya operasi tahun rata-rata
– Hitung biaya operasi setiap tahun.
– Hitung biaya operasi tahunan yang akan datang dengan peramalan yang di pilih.
– Tentukan Present Value dari total biaya tiap tahun ke tahun nol yaitu dengan cara mengalikan biaya dengan faktor Present Worth (P/F, i%, n)
– Hitung kumulatif biaya Present Value di atas.
– Untuk mendapatkan biaya tahunan rata-rata kalikan kumulatif biaya tiap tahun dengan faktor Capital Recovery (A/P, i%, n).
– Hasil yang diperoleh merupakan ekivalensi dari biaya operasi tahunan rata-rata tahunannya.
d. Menghitung total biaya tahunan rata-rata.
Jumlah semua elemen biaya di atas (Capital Recovery), biaya Down Time dan biaya operasional rata-rata.
Total biaya tahunan rata-rata dihitung dengan rumus:
Total biaya tahunan rata-rata = Biaya operasional tahunan rata-rata + Biaya Down Time + Capital recovery

3.9. Uraian Mengenai Seal Machine
Mesin Seal digunakan untuk kemasan pembungkus yang besar dan memakai sistem pengontrol suhu elektronik konstan dan mekanisme transmisi yang berkecepatan cukup. Mesin ini dapat menyegel plastik film dari berbagai macam bahan seperi PE, PP, kertas alumunium, dan dapat disesuaikan dengan sistem sulam timbul, serta pengontrol mikro computer dengan alat penghitung. Sumber pemanasan dari mesin ini adalah tabung infra merah. Suhu pemanasan bisa diatur secara otomatis, Mesin ini dirancang sangat rapi untuk memudahkan pengoperasian dan perawatan mesin. Seluruh sistem kontrol terletak di bagian depan sehingga mudah untuk mengatur ukuran kemasan dan kecepatan mesin. Pengoperasian mesin terpadu dari proses pembentukan kantong, pengeleman dan pemotongan. Spesifikasi Seal Machine dapat di lihat pada Tabel 3.1. berikut.
Tabel 3.1. Spesifikasi mesin Seal
Model DZ 400
Energi 380 Volt / 2 Kw / 50 Hz
Cos Q 0,8
Sealer Size 400 x 300 mm
Kapasitas 423 unit/jam

3.9.1. Uraian Proses Seal Machine.
Udang yang telah disusun pada polybag kemudian di bawa ke mesin Vacum dan Seal Machine. Mesin ini telah diatur dengan timer waktu dimana waktu untuk vakum adalah 4 detik dan waktu untuk seal adalah 3,5 detik. Kapasitas sekali vacum dan seal adalah delapan pak. Udang yang telah selesai divakum dan di seal selanjutnya disusun pada tray dan di bawa ke mesin CPF untuk dibekukan. Mesin Seal dirancang sangat rapi untuk memudahkan pengoperasian dan perawatan mesin. Seluruh sistem kontrol terletak di bagian depan sehingga mudah untuk mengatur ukuran kemasan dan kecepatan mesin.
Pengoperasian mesin terpadu dari proses mulai dari pembentukan kantong, pengisian, pengeleman dan pemotongan. Mesin ini telah dilengkapi dengan sistem pengendali otomatis, yakni mesin akan berhenti secara otomatis. Jika bahan yang dibungkus habis supaya tidak membentuk kemasan yang kosong dan jika salah satu elemen pemanas atau sekring elemen pemanasnya putus untuk menghindari supaya tidak terjadi kebocoran pada bungkusan akibat temperatur penyegelan.
3.9.2. Jenis dan Pola Segel
• Beragam jenis segel yang dapat dibuat oleh Seal Machine dapat di lihat pada Gambar 3.6. berikut :

Segel Tengah
(Center Seal) Segel Tiga Sisi
(Three Side Seal) Segel Empat Sisi
(Four Side Seal)
Gambar 3.6. Jenis segel yang dapat dibuat Seal Machine
Jenis segel lipat membentuk kemasan menyerupai kotak lipat samping yang tampak lebih anggun dan berkelas daripada jenis segel yang lain, jenis segel ini hanya tersedia untuk mesin ini.
• Pola Segel
Beragam pola segel yang dapat dibuat oleh Seal Machine dapat di lihat pada Gambar 3.7. berikut :

Pola Garis
(ukuran : 4, 6, 8, 10, 12 (mm ) Pola Kotak
ukuran : 4 ,5 (mm) Pola Polosan
jumlah baris : 1, 2 (mm)

Gambar 3.7. Pola segel yang dapat dibuat Seal Machine
• Jenis Potongan
Beragam jenis potongan yang dapat dibuat oleh Seal Machine pada sisi atas dan bawah kemasan dapat di lihat pada Gambar 3.8. berikut :

Potongan Gerigi
(ukuran : halus, kasar) Potongan Silet Potongan Rotari

Gambar 3.8. Jenis potongan yang dapat dibuat Seal Machine

Gambar Seal Machine dapat di lihat pada Gambar 3.9. berikut

Gambar 3.9. Gambar Seal Machine

BAB V
PEGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data berguna dalam mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan sebagai bahan pemecahan masalah. Jenis data yang berpengaruh terhadap penentuan umur ekonomis suatu mesin adalah biaya-biaya yang sifatnya berubah, misalnya biaya-biaya yang naik sejalan dengan bertambahnya umur pemakaian mesin, sedangkan biaya yang tidak berpengaruh terhadap umur pemakaian mesin adalah biaya yang sifatnya konstan, misalnya biaya asuransi, upah operator dan sebagainya.
Untuk memudahkan kelancaran penulisan tugas sarjana, diperlukan metode pengumpulan data agar data yang diambil dapat sempurna dan tepat pada waktunya serta tidak menggangu pekerjaan perusahaan. Data diperoleh dari perusahaan ini dilakukan dengan cara, antara lain :
1. Melakukan pengamatan secara langsung
2. Mencatat data dan informasi yang ada di perusahaan
3. Melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang memberi informasi yang diperlukan.

5.2. Pengumpulan Data
Pengumuman data dibutuhkan sebagai pemecahan masalah, adapun data-data yang diperlukan untuk penentuan umur ekonomis ini adalah :
1. Spesifikasi mesin Vacum Seal Machine.
2. Jumlah Seal Machine
3. Investasi mesin Vacum Seal ( harga awal Vacum Seal Machine).
4. Data Pemakaian suku cadang dan pelumas.
5. Data pemakaian energi.
6. Data harga energi listrik tiap tahun ( rekening listrik PLN ).
7. Data upah tenaga kerja untuk perawatan dan perbaikan Vacum Seal.
8. Waktu operasi, waktu perawatan dan perbaikan Vacum Seal Machine.
9. Upah upah tenaga kerja untuk operator Vacum Seal Machine.
10. Data inflasi tiap tahun.

5.2.1. Data primer
Data ini di dapat dengan melihat langsung maupun wawancara. Data tersebut terdiri dari :
• Data mengenai bahan-bahan yang digunakan dalam proses produksi, baik itu bahan baku, bahan penolong maupun bahan tambahan.
• Data mengenai proses produksi, mulai dari bahan baku sampai menjadi produk yang siap di pasarkan.
• Data mengenai mesin/peralatan yang digunakan dalam proses produk.

5.2.2. Data sekunder
Data sekunder didapat dengan mencatat dari arsip yang ada di perusahaan data tersebut meliputi:
a. Spesifikasi mesin Seal Machine yang menjadi objek penelitian dapat di lihat pada tabel 5.1.berikut:
Tabel. 5.1. Data Spesifikasi Mesin Secara Teknis.
Model DZ 400 / 2SV
Energi 380 Volt / 2 Kw / 50 Hz
Cos Q 0,8
Sealer Size 420 x 300mm
Vacum Pressure < 1kpa
Kapasitas 423 unit/jam

b. Investasi mesin
Dalam hal ini harga awal adalah harga mesin pada saat dibeli, termasuk ongkos pemasangan sampai mesin dapat beroperasi secara normal. Adapun harga awal mesin Vacum Seal Machine adalah Rp. 85.750.000.
c. Data pemakaian suku cadang dan pelumas
Data pemakaian suku cadang mesin Vacum Seal Machine disusun dalam bentuk Tabel 5.2. seperti di bawah ini.
Tabel. 5.2. Data pemakaian suku cadang dan pelumas Mesin Seal Machine

Tahun pakai Tahun ke-n Biya pemakaian suku cadang dan pelumas
1998 1 2.005.000
1999 2 2.355.000
2000 3 2.525.000
2001 4 3.025.000
2002 5 3.825.000
2003 6 4.550.000
2004 7 5.450.000
2005 8 7.000.000
2006 9 8.650.000
Sumber : PT. Central Windu Sejati

d. Data pemakaian energi
 Suplai dari PLN = 600 KVA
 Suplai dari pembangkit sendiri 700 KVA. Suplai dari pembangkit sendiri digunakan bila terjadi gangguan listrik dari PLN.
Data pemakaian energi listrik untuk mesin Vacum Seal Machine dapat di lihat pada Tabel 5.3. berikut ini :
Tabel. 5.3. Data pemakaian energi listrik untuk mesin Vacum Seal Machine.

Tahun pakai Tahun ke-n Daya listrik ( Kw )
1998 1 2.5
1999 2 2,5
2000 3 2,5
2001 4 2,5
2002 5 2,5
2003 6 2,5
2004 7 2,5
2005 8 2,5
2006 9 2,5
Sumber : PT. Central Windu Sejati

Dengan perincian harga yang diperoleh dari PLN pada tahun pemakaian 2005 atau pada tahun ke-n (dalam hal ini tahun ke sembilan) adalah berkisar Rp. 430/ KWH untuk tarif pemakaian industri menengah.
e. Data harga energi listrik

Tabel. 5.4. Harga Energi Listrik
Tahun Pakai Tahun ke-n Harga energi listrik Kw (Rp)
2006 9 439

f. Data Upah Tenaga Kerja untuk Perawatan dan Perbaikan mesin Vacum Seal Machine.
Tenaga kerja untuk perawatan perbaikan mesin Vacum Seal Machine terdiri dari 4 orang, upah tenaga kerja untuk perawatan mesin Vacum Seal Machine dapat di lihat pada Tabel 5.5. sebagai berikut.
Tabel. 5.5. Upah Tenaga Kerja untuk Perawatan dan Perbaikan mesin Vacum Seal Machine.

Tahun pakai Tahun ke-n T.kerja Upah/ orang (Rp) T.Upah perbulan (Rp) T.Upah pertahun (Rp) T.Upah perjam (Rp)
1998 1 4 325.000 1.300.000 15.600.000 1.083
1999 2 4 400.000 1.600.000 19.200.000 1.333
2000 3 4 480.000 1.920.000 23.040.000 1.600
2001 4 4 550.000 2.200.000 26.400.000 1.833
2002 5 4 680.000 2.720.000 32.640.000 2.266
2003 6 4 750.000 3.000.000 36.000.000 2.500
2004 7 4 820.000 3.280.000 39.360.000 2.733
2005 8 4 850.000 3.400.000 40.800.000 2.833
2006 9 4 950.000 3.800.000 45.600.000 3.166

g. Data Upah Tenaga Kerja untuk Operator mesin Vacum Seal Machine.
Dapat di lihat pada Tabel 5.6. berikut di bawah ini :
Tabel. 5.6. Data Upah Tenaga Kerja untuk Operator mesin Vacum Seal Machine

Tahun pakai Tahun ke-n T.kerja Upah/ orang (Rp) T.Upah perbulan (Rp) T.Upah pertahun (Rp)
1998 1 3 325.000 975.000 11.700.000
1999 2 3 420.000 1.260.000 15.120.000
2000 3 3 510.000 1.530.000 18.367.000
2001 4 3 580.000 1.740.000 20.880.000
2002 5 3 650.000 1.950.000 23.400.000
2003 6 3 700.000 2.100.000 25.200.000
2004 7 3 780.000 2.340.000 28.080.000
2005 8 3 850.000 2.550.000 30.600.000
2006 9 3 950.000 2.850.000 34.200.000
Sumber PT.Centra Windu Sejati

h. Waktu Operasi, Waktu Perawatan dan Perbaikan

 Waktu operasi selama 24 jam sehari. Jumlah hari kerja adalah 300 hari setahun, mesin Vacum Seal Machine dalam setahun beroperasi selama 12 bulan, jadi total waktu operasi mesin selama setahun adalah 7200 jam /tahun
 Waktu perawatan dan perbaikan.
1. Waktu perawatan adalah perawatan yang dilakukan terhadap mesin untuk mencegah kerusakan pada saat jam operasi. Service ini dilakukan secara preventive, tetapi walaupun preventive dilakukan namun kerusakan mesin pada saat jam operasi tetap ada. Waktu perawatan mesin selama tiap tahun adalah 150 jam.
2. Waktu perbaikan, waktu perbaikan merupakan lama mesin tidak beroperasi selama mesin menjalani perbaikan. Waktu perbaikan mesin Vacum Seal Machine dapat di lihat pada Tabel 5.7. berikut dibawah ini.
Tabel. 5.7. Waktu Perbaikan Mesin Vacum Seal Machine.
Tahun pakai Tahun ke-n Waktu Perbaikan ( jam)
1998 1 96
1999 2 100
2000 3 112
2001 4 116
2002 5 120
2003 6 122
2004 7 124
2005 8 128
2006 9 130

3. Data Inflasi Tahunan

Tabel. 5.8. Inflasi Tiap Tahun

Tahun Inflasi ( % )
1998 19,64
1999 18,12
2000 15,48
2001 12,55
2002 9,49
2003 6,79
2004 6,06
2005 10,5
2006 10,07
( Sumber : http://www.bi.go.id )

5.3. Pengolahan Data

5.3.1. Perhitungan Depresiasi Tahunan Mesin
Sebelum depresiasi ( capital recovery ) dihitung perlu ditentukan present value mesin Vacum Seal Machine. Present value ini adalah kesetaraan nilai dengan nilai konstan pada tahun 2006. awal pembelian (investasi) mesin Vacum Seal Machine tahun 1998 adalah Rp. 85.750.000,00 maka bila disetarakan dengan nilai uang tahun 2006 menjadi :
1,1964 x 1,1812 x 1,1548 …x 1,105 x Rp. 85.750.000 =
Rp. 216.947.500,00 ( harga awal/kesetaraan nilai pada tahun 2006)
Harga akhir mesin Vacum Seal Machine setiap tahunnya dapat dihitung dengan metode present tetap (declining balance methode )
Rumusannya adalah L = P (1-k )n
Dimana : L = Harga akhir mesin pada tahun ke-n
P = Harga awal mesin
K = Konstanta
N = Tahun
Dengan nilai k = 2/15 = 0.06
Perhitungan harga akhir mesin Vacum Seal Machine pada tahun pertama, tahun 1998 (n = 1 ) adalah :
L1 = Rp. 216.947.500,00 ( 1 – 0,6 ) = Rp. 214.778.025
Harga akhir pada tahun kedua, tahun 1999 ( n = 1 )adalah:
Harga akhir tahun ke-2 ( 2006) sampai tahun ke-20 (2017) dihitung dengan cara yang sama, hasilnya dapat di lihat pada Tabel 5.9. berikut :
Tabel. 5.9. Harga Akhir Tiap Tahun Vacum Seal Machine
Umur Pakai (n) Akhir Tahun Harga Akhir (Rp)
1 1998 203930650
2 1999 191694811
3 2000 180193122
4 2001 169381535
5 2002 159218643
6 2003 149665524
7 2004 140685593
8 2005 132244457
9 2006 124309790
10 2007 116851202
11 2008 109840130
12 2009 103249722
13 2010 97054739
14 2011 91231455
15 2012 85757568

5.3.2. Perhitungan Dana Pengembalian Modal
Biaya Pengembalian modal ( Capital Recovery ) dihitung dengan rumus :
CR = ( P – L ) ( A/P,I,n ) + Li
Dimana: CR = Capital Recovery
P = Harga Awal
L = Harga Akhir
I = Suku Bunga
N = Umur Pakai Mesin/Peralatan
(A/P,i%,n) = Capital Recovery Factor
Tabel. 5.10. Capital Recovery Vacum Seal Machine
Tahun Pakai Tahun Ke-n Harga Akhir (A/P,12, n) Capital Recovery (Rp)
1998 1 203930650 1,1200 39050550
1999 2 191694811 0,5917 37945393
2000 3 180193122 0,4163 36924022
2001 4 169381535 0.3292 35984500
2002 5 159218643 0.2774 35120222
2003 6 149665524 0.2432 34322839
2004 7 140685593 0.2191 33591255
2005 8 132244457 0.2013 32920057
2006 9 124309790 0.1877 32305273
2007 10 116851202 0.1770 31739189
2008 11 109840130 0.1684 31217697
2009 12 103249722 0.1614 30740788
2010 13 97054739 0.1557 30313872
2011 14 91231455 0.1509 29918326
2012 15 85757568 0.1468 29549590

5.3.3. Perhitungan Biaya Operasional
a. Tabel. 5.11. Total Biaya Pemakaian Suku cadang dan Pelumas
Tahun pakai Tahun ke-n Biaya pemakaian suku cadang dan pelumas
1998 1 2.005.000
1999 2 2.355.000
2000 3 2.525.000
2001 4 3.025.000
2002 5 3.825.000
2003 6 4.550.000
2004 7 5.450.000
2005 8 7.000.000
2006 9 8.650.000

b. Perhitungan Waktu Operasi Mesin
Waktu operasi mesin Vacum Seal Machinee dengan rumus :
Waktu operasi Mesin = Waktu operasi Normal – Waktu Perbaikan
= 7200 jam – 96 jam ( pada tahun 1998/n-1 ) = 7104 jam
Data waktu operasi mesin Vacum Seal Machinetiap tahun dapat di lihat pada Tabel 5.12 berikut ini :
Tabel. 5.12. Data waktu operasi mesin Vacum Seal Machine
Tahun Pakai Tahun
Ke-n Waktu Perbaikan
(Rp) Waktu opearasi Tiap Tahun (Jam)
1 1998 96 7104
2 1999 100 7150
3 2000 112 7088
4 2001 116 7084
5 2002 120 7080
6 2003 122 7078
7 2004 124 7074
8 2005 128 7072
9 2006 130 7070

c. Perhitungan Biaya Pemakaian Energi Listrik Tiap Tahun.
Untuk menghitung energi listrik yang digunakan untuk menggerakkan mesin, digunakan rumus :

Dimana : Pi = daya masuk elektro motor
Po = daya keluar dari elektro motor
Cos  = faktor daya
Untuk memperoleh harga Pi dapat dilakukan berdasarkan data dari Tabel 5.3.
Pi = = 2,5 Kw
Biaya energi listrik tiap tahun dihitung dengan rumus :
Biaya Energi Listrik = Waktu Operasi x Daya Mesin x Harga Energi Listrik per KwH
= 7104 Jam x 2,5 x 430,00/KwH
= Rp. 7.540.050,00

Tabel. 5.13. Biaya Pemakaian Energi Listrik Vacum Seal MachineTiap Tahun

Tahun Pakai Tahun Ke-n Waktu Operasi
(Jam) Daya Mesin (Kw ) Harga Energi Listrik per KwH ( Rp ) Biaya Energi Tiap Tahun (Rp)
1998 1 7104 2,5 430 7.540.000,00
1999 2 7150 2,5 430 7.632.500,00
2000 3 7088 2,5 430 7.619.600,00
2001 4 7084 2,5 430 7.615.300,00
2002 5 7080 2,5 430 7.611.000,00
2003 6 7078 2,5 430 7.608.850,00
2004 7 7074 2,5 430 7.604.550,00
2005 8 7072 2,5 430 7.602.400,00
2006 9 7070 2,5 430 7.600.250,00

d. Perhitungan Biaya Perbaikan dan Perawatan Tiap Tahun.
Biaya Perawatan dan Perbaikan dihitung dengan rumus :
Biaya perawatan /perbaikan = Biaya Tenaga Kerja per jam x(waktu perawatan + Waktu perbaikan )
= Rp. 2167/jam x ( 300+ 96 jam )
= Rp.428.868
Data biaya perawatan dan perbaikan mesin Vacum Seal Machine tahun dapat di lihat pada Tabel 5.14. berikut :

Tabel. 5.14. Biaya Pemakaian dan Perbaikan Vacum Seal Machine Tiap Tahun.

Tahun Pakai Tahun Ke-n Waktu Perawatan pertahun
(Jam) Waktu Perawatan Pertahun
( jam) Biaya Tenaga Kerja (Rp.) Biaya Perbaikan/Perawatan (Rp)
1998 1 300 96 1.083 428.868
1999 2 300 100 1.333 533.200
2000 3 300 112 1.600 659.200
2001 4 300 116 1.833 762.528
2002 5 300 120 2.266 951.720
2003 6 300 122 2.500 105.500
2004 7 300 124 2.733 1.158.792
2005 8 300 128 2.833 1.212.524
2006 9 300 130 3.166 1.361.380

5.3.4. Perhitungan Biaya Down Time Tiap Tahun
Down Time merupakan kehilangan kesempatan mesin untuk beroperasi karena mesin tersebut sedang diperbaiki. Hitung data waktu Down Time tiap tahun dengan rumus :
rd =
Dimana :
rd = Rata-rata down time mesin setiap tahun.
= Jumlah down time mesin setiap tahun ke -n
n = Jumlah tahun.
misalnya untuk mesin Vacum Seal Machine dapat di lihat pada Tabel5.15. berikut

Tabel. 5.15. Down time Vacum Seal Machine tiap tahun
Tahun Pakai Tahun
Ke-n Waktu Perbaikan
(Rp) Down Time Tahunan Rata-rata (Jam)
1 1998 96 96
2 1999 100 98
3 2000 112 102.6
4 2001 116 106
5 2002 120 108.8
6 2003 122 111
7 2004 124 112.8
8 2005 128 114.75
9 2006 130 116.45

Perhitungan biaya rata-rata Down Time dengan persamaan :
Bd = r d / jk X OP
dimana :
Bd = Biaya Down Time
rd = Rata – rata Down Time
jK = Jumlah tahun
OP = Biaya operator tiap tahun
Perhitungan biaya rata-rata Down Time mesin Vacum Seal Machine
– Waktu Down Time = 96jam
– Jam kerja seharusnya = 7200 jam
– Biaya operator = Rp. 15.600.000
– Maka ( tahun 1998/n-1 )
Demikian juga untuk tahun-tahun selanjutnya, perhitungan dilakukan dengan cara yang sama dan hasilnya dapat di lihat pada Tabel 5.16.
Tabel. 5.16. Biaya Down Time Mesin Vacum Seal Machine.
Tahun Pakai Tahun Ke-n Down Time
(Jam) Biaya Operator ( Rp ) Biaya Down Time ( Rp )
1998 1 96 15.600.000 208.000.00
1999 2 98 19.200.000 261.333.33
2000 3 102.6 23.040.000 328.320.00
2001 4 106 26.400.000 388.666.67
2002 5 108.8 32.640.000 493.226.67
2003 6 111 36.000.000 555.000.00
2004 7 112.8 39.360.000 616.640.00
2005 8 114.75 40.800.000 650.250.00
2006 9 116.45 45.600.000 737.516.67

BAB V
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data berguna dalam mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan sebagai bahan pemecahan masalah.
5.1.1. Spesifikasi, Inflasi dan Harga Awal Pembelian
Harga mesin Threser yang dipakai adalah harga pembelian tahun 1997 senilai Rp. 285,000,000,- dan umur pakai mesin diperkirakan selama 30 tahun.
Spesifikasinya dapat dilihat pada Tabel 5.1
Tabel 5.1. Spesifikasi Mesin Threser
Spesifikasi Mesin Threser Fungsi Mesin Threser
Merek SEW HERICAL
Untuk membanting TBS agar berondolan terlepas dari tandannya
Tegangan 220 V
Putaran Mesin 1950 Rpm
Daya 20 HP
Kapasitas 24 Ton
Buatan Jerman
Jumlah 1 Unit
Taksiran Umur Pakai 30 Tahun
Harga Awal Rp.285.000.000
Sumber: PT. TOLAN TIGA INDONESIA Kebun Prelabian

Berikut adalah cara kerja dari pada mesin Threser yang ada pada PT. TOLAN TIGA INDONESIA Kebun Perlabian. Buah dalam lorie yang sudah dikeluarkan dari rebusan diangkut dan dituangkan kedalam Thresher.
TBS erta berondolan yang sudah lepas dengan sendirinya sedikit demi sedikit masuk kedalam bantingan (polishing drum). Pemasukan buah ke dalam bantingan ini kecepatannya diatur oleh penggerak auto feeder. Buah yang masuk dikontrol agar tidak terlalu banyak, agar pelepasan berondolan dari tandannya dapat sempurna. Bantingan (polishing drum) berupa cylinder dengan sela-sela (kisi-kisi) selebar 4 – 6 cm2 agar dapat dilewati oleh berondolan. Pembantingan tandan berlangsung atas dasar putaran polishing drum pada as-nya, tandan yang jatuh atau masuk kedalamnya ikut berputar dan melekat pada rusuk-rusuk drum. Setibanya tandan segar pada puncak lintasan, tandan buah jatuh akibat gaya beratnya sehingga berondolan dapat lepas dari janjangan atau tandannya. Untuk lebih jelasnya gambar mesin Threser dapat dilihat pada Gambar 5.1. dibawah ini.

Gambar 5.1. Mesin Threser
Tabel 5.2 Tingkat Inflasi
Tahun Tingkat Inflasi (%)
1998 11.05
1999 19.54
2000 18.12
2001 15.48
2002 12.55
2003 9.49
2004 6.79
2005 6.50
2006 6.30
Sumber dari http://www.BI. Go. Or id.

5.1.2. Pemakaian Energi
Energi yang tersedia dari pembangkit sendiri sebanyak 900 KVA dan digunakan untuk pabrik. Biaya pemakaian energi dapat dilihat pada Tabel 5.3 berikut.
Tabel 5.3. Harga Daya Listrik
Tahun Hrg Listrik/KWH (Rp)
1998 175
1999 180

Tabel 5.3. Harga Daya Listrik (Lanjutan)
Tahun Hrg Listrik/KWH (Rp)
2000 188
2001 205
2002 238
2003 260
2004 295
2005 320
2006 345
Sumber: PT. TOLAN TIGA INDONESIA Kebun Perlabian

Daya listrik mesin Threser pertahun dapat dilihat pada Tabel 5.4
Tabel 5.4.Daya Listrik Mesin Threser
Tahun Pemakaian Daya Listrik (Kw)
1998 6.99
1999 7.13
2000 7.24
2001 7.29
2002 7.36
2003 7.41
2004 7.48

Tabel 5.4.Daya Listrik Mesin Threser (lanjutan)
Tahun Pemakaian Daya Listrik (Kw)
2005 7.52
2006 7.54
Sumber: PT. TOLAN TIGA INDONESIA Kebun Perlabian

5.1.3 Jam Operasi
Jam operasi mesin Threser adalah jam kerja normal mesin dikurangi dengan jam reparasinya. Mesin bekerja normal 24 jam sehari. Jumlah hari kerja dalam setahun adalah 300 hari. Lamanya mesin Threser bekerja setiap tahunnya dapat dilihat pada Tabel 5.5
Tabel 5.5 Jam Operasi mesin Threser
Tahun Lama Beroperasi (jam)
1998 7010
1999 7004
2000 7000
2001 6992
2002 6976
2003 6966
2004 6956
2005 6942
2006 6924
5.1.4. Upah Operator Mesin
Operator mesin Threser berjumlah 3 orang. Upah tenaga kerja untuk operator mesin Threser dapat dilihat pada Tabel 5.6 halaman berikut :
Tabel 5.6 Upah 3 Orang Operator Mesin Threser
Tahun Upah Perbulan
1998 400000
1999 520000
2000 600000
2001 700000
2002 800000
2003 850000
2004 900000
2005 950000
2006 1000000
Sumber: PT. TOLAN TIGA INDONESIA Kebun Perlabian

5.1.5 Biaya Penggantian Suku Cadang.
Suku cadang yang umumnya diganti : geared motor, bunch threser, belt conveyor. Data biaya penggantian suku cadang Mesin Threser pada Tabel 5.7
Tabel 5.7 Biaya Penggantian Suku Cadang Mesin Threser
Tahun Biaya Pertahun (Rp)
1998 594000
1999 750000
Tabel 5.7 Biaya Penggantian Suku Cadang Mesin Threser (Lanjutan)
Tahun Biaya Pertahun (Rp)
2000 879000
2001 1554000
2002 1590000
2003 4416000
2004 6475000
2005 9215000
2006 9553000
Sumber: PT. TOLAN TIGA INDONESIA Kebun Perlabian

5.1.6 Biaya Pemakaian Pelumas.
Pelumas yang dipakai meliputi pelumas untuk mesin dan transmisi mesin Threser yang data pemakaiannya dapat dilihat pada Tabel 5.8.
Tabel 5.8 Biaya Pemakaian Pelumas
Tahun Rored HD 90
(liter) Harga / liter (Rp)
1998 388 7700
1999 568 7700
2000 634 8900
2001 692 9300
2002 709 9300
2003 743 9500

Tabel 5.8 Biaya Pemakaian Pelumas (Lanjutan)
Tahun Rored HD 90
(liter) Harga / liter (Rp)
2004 810 9.500
2005 851 9.500
2006 886 9.500

Sumber: PT. TOLAN TIGA INDONESIA Kebun Perlabian

5.1.7. Jam Reparasi
Jam reparasi mesin Threser dapat dilihat pada Tabel 5.9.
Tabel 5.9 Lama Reparasi Mesin Threser
Tahun Lama Reparasi (jam)
1998 190
1999 196
2000 200
2001 208
2002 224
2003 234
2004 244
2005 258
2006 262
Sumber: PT. TOLAN TIGA INDONESIA Kebun Perlabian

5.1.8. Upah Tenaga Kerja untuk Perawatan Mesin
Tenaga kerja untuk perawatan mesin Threser berjumlah 2 orang dan upah tenaga kerja untuk perawatan mesin Threser dapat dilihat pada Tabel 5.10
Tabel 5.10 Upah 2 Orang Tenaga Kerja Perawatan Mesin Threser
Tahun Upah Perbulan
1998 380000
1999 435000
2000 560000
2001 700000
2002 850000
2003 900000
2004 950000
2005 975000
2006 1000000
Sumber: PT. TOLAN TIGA INDONESIA Kebun Perlabian

5.2. Pengolahan Data.
5.2.1 Perhitungan Depresiasi Tahunan Mesin Threser
Sebelum depresiasi (Capital Recovery) dihitung perlu ditentukan Present Value (P) mesin Threser. Present Value ini adalah kesetaraan nilai dengan nilai konstan pada tahun 2006.
Awal pembelian seharga Rp 285.000.000,- maka bila disetarakan dengan nilai uang pada tahun 2006, maka harga tersebut menjadi :
(1,1105)(1,1964)(1,1812)(1,1548)(1,1255)(1,0949)(1,0679)(1,065)(285.000.000)
Kesetaraan nilai pada tahun 2006 = Rp. 723.886.201

Sedangkan harga akhir mesin untuk setiap tahunnya dihitung dengan metode persentase tetap (Declining Balance Method). Karena metode ini menggunakan kesetaraan nila uang sesuai dengan kenaikan tingkat inflasi (suku bunga uang) setiap tahunnya sehingga tidak terjadi ketimpangan harga, serta memudahkan dalam mencari harga depresiasi.
Rumus yang berlaku : L = P (1 – k)n
dengan nilai k = 2/n = 2/30 = 0,06
Dimana : L = Harga akhir mesin pada tahun ke n
P = Harga awal Mesin
K = Konstanta
n = Tahun ke n (pada persamaan L)
n = Umur pakai mesin (pada persamaan K)
perhitungan harga akhir mesin Threser pada tahun pertama, tahun 2002 (n = 1) adalah :
L1 = 723.886.201 (1 – 0.06 )1 = Rp. 680.452.860

Harga akhir pada tahun kedua, tahun 1998 (n = 2) adalah
L2 = 723.886.201 ( 1-0.06 )2 = Rp. 639.625.688
Harga akhir tahun ke 3 (2000) hingga harga akhir tahun ke 9 (2006) dihitung dengan cara yang sama, hasilnya dapat dilihat pada Tabel 5.11.

Tabel 5.10. Perhitungan Harga Akhir Mesin Threser
Tahun Harga Akhir (Rp)
1998 680.452.860
1999 639.625.688
2000 601.248.147
2001 565.173.258
2002 531.262.863
2003 499.387.091
2004 469.423.865
2005 441.258.433
2006 414.782.927

Setelah harga Present value (P) dan Harga akhir (L) tiap tahun mesin Threser diperoleh selanjutnya depresiasi tahunan (CR) ditentukan dengan rumus :
CR = ( P – L ) ( A/P, i, n) + Li
Suka bunga yang dipilih disesuaikan dengan suku bunga deposito bank yaitu i = 8,5 %.Untuk perhitungan dana pengembalian modal pada tahun pertama (1997) adalah : P = Rp. 723.886.201,-
L = Rp 680.452.860,-
i = 8,5 %
(A/P;8,5%,1) = 1,0850
CR = (P – L) (A/P;i,n) + L.i
= (723.886.201–680.452.860) (1,0850) + (680.452.860) (0,085)
= 47.124.980 + 57.838.493
= 104.963.472
Dana pengembalian modal untuk tahun ke-2 (1999) sampai dengan tahun ke-9 (2006) dihitung dengan cara yang sama. Hasil perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 5.12.
Tabel 5.12. Perhitungan Depresiasi Tahunan Mesin Threser
Tahun Harga Akhir (Rp) (A/P;8,5%,n) Capital Recovery (Rp)
1998 680452860 1.085 104963472.8
1999 639625688 0.5646 101941567.5
2000 601248147 0.3915 99118820.17
2001 565173258 0.3053 96494733.47
2002 531262863 0.2538 94045100.86
2003 499387091 0,2196 91747867.76
2004 469423865 0,1954 89622933.81
2005 441258433 0,1773 87616838.16
2006 414782927 0,1634 85763994.35

5.2.2. Perhitungan Biaya Operasi
Biaya operasi mesin Threser adalah penjumlahan dari biaya energi, biaya suku cadang, biaya pelumas, upah tenaga kerja operator dan upah tenaga kerja perawatan. Tetapi sebelumnya dihitung terlebih dahulu biaya pemakaian energi dengan menggunakan rumus :
Biaya pemakaian energi = Daya listrik x Jam operasi x Harga listrik per KwH
Biaya pemakaian energi = 6.99 x 7010 x 175 = Rp. 8.574.983
Perhitungan biaya pemakaian energi dapat dilihat pada Tabel 5.11 berikut
Tabel 5.11. Perhitungan Biaya Pemakaian Energi Mesin Threser
Tahun Daya Listrik (Kw) Jam Operasi Harga Listrik perKwH Biaya Pemakaian Energi
1998 6.99 7010 175 8.574.983
1999 7.13 7004 180 8.988.934
2000 7.24 7000 188 9.527.840
2001 7.29 6992 205 10.449.194
2002 7.36 6976 238 12.219.720
2003 7.41 6966 260 13.420.696
2004 7.48 6956 295 15.349.110
2005 7.52 6942 320 16.705.229
2006 7.54 6944 324 16.963.914

Kemudian dihitung lagi biaya pemakaian pelumas dengan rumus :
Biaya pemakaian pelumas = Jumlah pelumas (ltr) x Harga pelumas perliter
Biaya pemakaian pelumas = 388 x 7700 = 2.987.600

Perhitungan biaya pemakaian pelumas dapat dilihat pada Tabel 5.12 halaman berikut
Tabel 5.12. Perhitungan Biaya Pemakaian Pelumas Mesin Threser
Tahun Rored HD 90 (Liter) Harga/Liter
(Rp) Biaya Pemakaian
Pelumas
1998 388 7700 2.987.600
1999 568 7700 4.373.600
2000 634 8900 5.642.600
2001 692 9300 6.435.600
2002 709 9300 6.593.700
2003 743 9500 7.058.500
2004 755 9500 71.72.500
2005 786 9500 7.467.000
2006 798 9500 7.581.000

Perhitungan biaya tenaga kerja perawatan mesin Threser dapat dihitung dengan rumus :
Biaya tenaga kerja perawatan = Upah perbulan x Jumlah tenaga Kerja x 12
Biaya tenaga kerja perawatan = 380 000 x 2 x 12 = 9.120.000
Tabel 5.12. Perhitungan Biaya Tenaga Kerja Perawatan Mesin Threser
Tahun Upah Perbulan (Rp) Upah Pertahun (Rp)
1998 380000 9120000
1999 435000 10440000
2000 560000 13440000
Tabel 5.12. Perhitungan Biaya Tenaga Kerja Perawatan Mesin Threser
(Lanjutan)
Tahun Upah Perbulan (Rp) Upah Pertahun (Rp)
2001 700000 16800000
2002 850000 20400000
2003 900000 21600000
2004 950000 22800000
2005 975000 23400000
2006 1000000 24000000

Perhitungan biaya perawatan dihitung dengan rumus sebagai berikut ;
Biaya perawatan = Biaya penggantian suku cadang + Biaya pelumas + Biaya tenaga kerja perawatan
Biaya perawatan = 594.000 + 2.987.600 + 9.120.000

Tabel 5.13. Perhitungan Total Biaya Perawatan Mesin Threser
Tahun Biaya suku cadang Biaya Pemakaian
Pelumas Biaya Tenaga Kerja Perawatan Total Biaya Perawatan
1998 594000 2987600 9120000 12701600
1999 750000 4373600 10440000 15203600
2000 879000 5642600 13440000 19961600
2001 1554000 6435600 16800000 22389600
2002 1590000 6593700 20400000 23783700
Tabel 5.13. Perhitungan Total Biaya Perawatan Mesin Threser (Lanjutan)
Tahun Biaya suku cadang Biaya Pemakaian
Pelumas Biaya Tenaga Kerja Perawatan Total Biaya Perawatan
2003 4416000 7058500 21600000 28274500
2004 6475000 7172500 22800000 31047500
2005 9215000 7467000 23400000 34682000
2006 9553000 7581000 24000000 36334000

Selanjutnya akan dihitung biaya operasi dengan menggunakan rumes sebagai berikut :
Biaya operasi = Biaya pemakaian energi + Total biaya perawatan
Biaya operasi = 8.574.983 + 12.701.600 = 21.276.583
Tabel 5.14. Perhitungan Biaya Operasi Mesin Threser
Tahun Biaya Pemakaian Energi (Rp) Total Biaya Perawatan Biaya Operasi
1998 8574983 12701600 21276583
1999 8988934 15563600 24552534
2000 9527840 19961600 29489440
2001 10449194 24789600 35238794
2002 12219720 28583700 40803420
2003 13420696 33074500 46495196
2004 15349110 36447500 51796610
Tabel 5.13. Perhitungan Biaya Operasi Mesin Threser
(Lanjutan)
Tahun Biaya Pemakaian Energi (Rp) Total Biaya Perawatan Biaya Operasi
2005 16.705.229 40.082.000 56787229
2006 16.963.914 41.134.000 58097914

5.2.3. Perhitungan Biaya Down Time
Down time merupakan kehilangan kesempatan mesin untuk beroperasi karena mesin tersebut rusak atau sedang diperbaiki. Biaya down time dihitung berdasarkan jam reparasi mesin pertahun dibagi dengan jam kerja normal mesin pertahun di kali dengan biaya operator tiap tahun (BO)
Jam kerja normal pertahun besarnya 7200 jam, dihitung berdasarkan jam kerja normal 24 jam/hari dikalikan dengan 1 tahun kerja (kira-kira 300 hari kerja). Operator mesin Threser ini dibagi dalam 3 shift yang masing-masing shift jumlahnya 1 orang.
Tetapi sebelumnya dihitunh terlebih dahulu biaya operator mesin threser dengan rumus sebagai berikut :
Biaya operator pertahun = Upah perbulan x Jumlah tenaga kerja x 12
Biaya operator pertahun = 400.000 x 3 x.12 = 14.400.000

Tabel 5.13. Perhitungan Biaya Operator Mesin Threser
Tahun Upah Perbulan (Rp) Upah Pertahun
(Rp)
1998 400.000 14.400.000
1999 520.000 18.720.000
2000 600.000 21.600.000
2001 700.000 25.200.000
2002 800.000 28.800.000
2003 850.000 30.600.000
2004 900.000 32.400.000
2005 950.000 34.200.000
2006 1.000.000 36.000.000

Biaya down time dihitung dengan persamaan :
Bd = jr / j k X BO
dimana :
Bd = Biaya down time.
jr = Jam reperasi mesin peralatan
j k = Jam kerja normal mesin pertahun.
BO = Biaya Operator

Untuk perhitungan biaya “down time“ mesin Threser tahun 1998
 Jam kerja normal mesin pertahun = 7200 jam
 Jam reperasi mesin peralatan = 190 jam
 Biaya Operator pertahun =Rp.14.400.000,-
Maka
Perhitungan dimulai dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2006. Demikian juga untuk tahun-tahun selanjutnya, perhitungan biaya down time untuk mesin Threser dilakukan dengan cara yang sama dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 5.14 berikut :
Tabel 5.14. Perhitungan Biaya Down Time Mesin Threser.
Tahun Jam reperasi Jam Kerja Normal Biaya Operator Biaya Down Time Pertahun
1998 190 7.200 14.400.000 380.000
1999 196 7.200 18.720.000 509.600
2000 200 7.200 21.600.000 600.000
2001 208 7.200 25.200.000 728.000
2002 224 7.200 28.800.000 896.000
2003 234 7.200 30.600.000 994.500
2004 244 7.200 32.400.000 1.098.000
2005 258 7.200 34.200.000 1.225.500
2006 262 7.200 36.000.000 1.310.000

Trend Eksponensial (Yi”= a x bxi)

n Xi Xi2 Yi Log Yi XiLogYi Yi” (Yi”-Yi) (Yi”-Yi)2
1 -4 16 523225 5.71868857 -22.87475428 227497.263 -295728 87454953570.80
2 -3 9 549469 5.739943116 -17.21982935 293821.8151 -255647 65355432034.28
3 -2 4 584416 5.766722097 -11.53344419 379482.627 -204933 41997687355.72
4 -1 1 599094 5.77749497 -5.77749497 490116.9921 -108977 11875988246.93
5 0 0 675490 5.829618924 0 633005.7 -42484 1804915746.49
6 1 1 694217 5.841495244 5.841495244 817552.1818 123335 15211567064.21
7 2 4 722590 5.858891989 11.71778398 1055901.345 333311 111096405944.50
8 3 9 650461 5.813221262 17.43966379 1363738.823 713278 508765252686.85
9 4 16 735516 5.866592125 23.4663685 1761323.239 1025807 1052280492343.50
60 5734478 52 1 7022440 1287962 1895842694993

5.801407589
633005.6533 0.117754302

41698640 41698640 504358800 754000000 1078819 2943141600 4202579219
37966279 79664919 490534500 763250000 1121086 3152094800 4407000386
33418861 113083780 449076800 761960000 1173390 3177321500 4389531690
29521924 142605704 465884100 761530000 1357316 3179074300 4407845716
26322307 168928011 523405700 761100000 13613600 3218467800 4516587100
23496911 192424922 569128200 760885000 14202240 3269367000 4613582440
21000416 213425338 638358500 760455000 14448590 3289010400 4702272490
19294383 232719721 735000000 760240000 14494530 3381300000 4891034530
17981979 250701700 865000000 760025000 14669920 3575600000 5215294920
19053675 269755375
17357168 287112543
15805690 302918233
14387450 317305683
13088737 330394420
11906957 342301377
10825279 353126656
98384669 451511325
89403266 540914591
81237025 622151616
73804797 695956413

7174354.33+1085777.9

1 1.1200 43093823 0.8889 38306099.26 38306099 42902831
2 0.5917 45179879 0.7972 36017399.54 74323499 43977214
3 0.4163 45056973 0.7118 32071553.38 106395052 44292260
4 0.3292 45422200 0.6355 28865808.1 135260860 44527875
5 0.2774 46391095 0.5674 26322307.3 161583168 44823171
6 0.2432 47414026 0.5066 24019945.57 185603113 45138677
7 0.2191 48323098 0.4523 21856537.23 207459650 45454409
8 0.2013 50214853 0.4039 20281779.13 227741430 45844350
9 0.1877 53473242 0.3606 19282451.07 247023881 46366382
10 0.1770 58032124 0.3220 18686344.03 265710225 47030710
11 0.1684 59117901 0.2875 16996396.63 282706621 47607795
12 0.1614 60203678 0.2567 15454284.23 298160905 48123170
13 0.1557 61289455 0.2292 14047543.16 312208449 48610855
14 0.1509 62375232 0.2046 12761972.53 324970421 49038037
15 0.1468 63461009 0.1827 11594326.4 336564748 49407705
16 0.1434 64546786 0.1631 10527580.85 347092328 49773040
17 0.1405 65632563 0.1456 9556101.221 356648430 50109104
18 0.1379 66718340 0.1300 8673384.243 365321814 50377878
19 0.1358 67804117 0.1161 7872058.022 373193872 50679728
20 0.1339 68889894 0.1037 7143882.042 380337754 50927225
21 0.1322 69975671 0.0926 6479747.165 386817501.1 51137274
22 0.1308 71061448 0.0826 5869675.632 392687176.7 51363483
23 0.1296 72147225 0.0738 5324465.229 398011642 51582309
24 0.1285 73233002 0.0659 4826054.854 402837696.8 51764644
25 0.1275 74318779 0.0588 4369944.225 407207641.1 51918974
26 0.1267 75404556 0.0525 3958739.207 411166380.3 52094780
27 0.1250 76490333 0.0469 3587396.633 414753776.9 51844222
28 0.1252 77576110 0.0419 3250439.023 418004215.9 52334128
29 0.1247 78661887 0.0374 2941954.586 420946170.5 52491987
30 0.1241 79747664 0.0334 2663571.989 423609742.5 52569969

637164.23+25394xi
1 1.1200 0.8889 523225 465095 465095 520906
2 0.5917 0.7972 549468 438036 903131 534382
3 0.4163 0.7118 584416 415987 1319118 549149
4 0.3292 0.6355 599094 380724 1699842 559588
5 0.2774 0.5674 675490 383273 2083115 577856
6 0.2432 0.5066 694211 351687 2434802 592144
7 0.2191 0.4523 722590 326827 2761630 605073
8 0.2013 0.4039 718526 290213 3051843 614336
9 0.1877 0.3606 735516 265227 3051843 572831
10 0.1770 0.3220 891104.23 286936 3604005 637909
11 0.1684 0.2875 916498.23 263493 3867498 651287
12 0.1614 0.2567 941892.23 241784 4109282 663238
13 0.1557 0.2292 967286.23 221702 4330984 674334
14 0.1509 0.2046 992680.23 203102 4534087 684194
15 0.1468 0.1827 1018074.23 186002 4720089 692909
16 0.1434 0.1631 1043468.23 170190 4890278 701266
17 0.1405 0.1456 1068862.23 155626 5045905 708950
18 0.1379 0.1300 1094256.23 142253 5188158 715447
19 0.1358 0.1161 1119650.23 129991 5318149 722205
20 0.1339 0.1037 1145044.23 118741 5436891 728000
21 0.1322 0.0926 1170438.23 108383 5545273 733085
22 0.1308 0.0826 1195832.23 98776 5644049 738242
23 0.1296 0.0738 1221226.23 90126 5734175 743149
24 0.1285 0.0659 1246620.23 82152 5816328 747398
25 0.1275 0.0588 1272014.23 74794 5891122 751118
26 0.1267 0.0525 1297408.23 68114 5959236 755035
27 0.1250 0.0469 1322802.23 62039 6021275 752659
28 0.1252 0.0419 1348196.23 56489 6077765 760936
29 0.1247 0.0374 1373590.23 51372 6129137 764303
30 0.1241 0.0334 1398984.23 46726 6175863 766425

cr ha cr
1 216947500 203930650 1.1200 39050550 42902831 520906 82474287
2 216947500 191694811 0.5917 37945393.4 43977214 534382 82456990
3 216947500 180193122 0.4163 36924022.1 44292260 549149 81765431
4 216947500 169381535 0.3292 35984499.88 44527875 559588 81071963
5 216947500 159218643 0.2774 35120222.11 44823171 577856 80521249
6 216947500 149665524 0.2432 34322839.4 45138677 592144 80053660
7 216947500 140685593 0.2191 33591255 45454409 605073 79650738
8 216947500 132244457 0.2013 32920057.37 45844350 614336 79378743
9 216947500 124309790 0.1877 32305272.98 46366382 572831 79244486
10 216947500 116851202 0.1770 31739188.96 47030710 637909 79407808
11 216947500 109840130 0.1684 31217696.69 47607795 651287 79476778
12 216947500 103249722 0.1614 30740787.99 48123170 663238 79527196
13 216947500 97054739 0.1557 30313871.56 48610855 674334 79599061
14 216947500 91231455 0.1509 29918325.8 49038037 684194 79640556
15 216947500 85757568 0.1468 29549590.19 49407705 692909 79650204
16 216947500 80612113 0.1434 29223948.05 49773040 701266 79698254
17 216947500 75775387 0.1405 28927728.32 50109104 708950 79745782
18 216947500 71228863 0.1379 28642063.59 50377878 715447 79735389
19 216947500 66955132 0.1358 28403579.42 50679728 722205 79805512
20 216947500 62937824 0.1339 28174434.5 50927225 728000 79829659
21 216947500 59161554 0.1322 27958688.54 51137274 733085 79829047
22 216947500 55611861 0.1308 27776124.9 51363483 738242 79877849
23 216947500 52275149 0.1296 27614554.57 51582309 743149 79940012
24 216947500 49138640 0.1285 27460075.31 51764644 747398 79972117
25 216947500 46190322 0.1275 27314378.83 51918974 751118 79984471
26 216947500 43418903 0.1267 27196341.6 52094780 755035 80046157
27 216947500 40813769 0.1250 26914368.66 51844222 752659 79511250
28 216947500 38364942 0.1252 26962329.3 52334128 760936 80057393
29 216947500 36063046 0.1247 26883856.93 52491987 764303 80140148
30 216947500 33899263 0.1241 26784197.77 52569969 766425 80120591

216947500

n I (% ) Pin/ F ; 12 ; n n I% ( A/Pin, 12% ; n
1 12 0.8889 1 12 1.1200
2 12 0.7972 2 12 0.5917
3 12 0.7118 3 12 0.4163
4 12 0.6355 4 12 0.3292 12
5 12 0.5674 5 12 0.2774
6 12 0.5066 6 12 0.2432
7 12 0.4523 7 12 0.2191
8 12 0.4039 8 12 0.2013
9 12 0.3606 9 12 0.1877
10 12 0.322 10 12 0.1770
11 12 0.2875 11 12 0.1684
12 12 0.2567 12 12 0.1614
13 12 0.2292 13 12 0.1557
14 12 0.2046 14 12 0.1509
15 12 0.1827 15 12 0.1468
16 12 0.1631 16 12 0.1434
17 12 0.1456 17 12 0.1405
18 12 0.13 18 12 0.1379
19 12 0.1161 19 12 0.1358
20 12 0.1037 20 12 0.1339
21 12 0.0926 21 12 0.1322
22 12 0.0826 22 12 0.1308
23 12 0.0738 23 12 0.1296
24 12 0.0659 24 12 0.1285
25 12 0.0588 25 12 0.1275
26 12 0.0525 26 12 0.1267
27 12 0.0469 27 12 0.1250
28 12 0.0419 28 12 0.1252
29 12 0.0374 29 12 0.1247
30 12 0.0334 30 12 0.1241

3.9. Uraian Mengenai Seal Machine
Mesin Seal digunakan untuk kemasan pembungkus yang besar dan memakai sistem pengontrol suhu elektronik konstan dan mekanisme transmisi yang berkecepatan cukup. Mesin ini dapat menyegel plastik film dari berbagai macam bahan seperi PE, PP, kertas alumunium, dan dapat disesuaikan dengan sistem sulam timbul, serta pengontrol mikro computer dengan alat penghitung. Mesin ini bisa digunakan untuk mengemas produk dengan plastik. Sumber pemanasan dari mesin ini adalah tabung infra merah. Suhu pemanasan bisa diatur secara otomatis, Mesin ini dirancang sangat rapi untuk memudahkan pengoperasian dan perawatan mesin. Seluruh sistem kontrol terletak di bagian depan sehingga mudah untuk mengatur ukuran kemasan dan kecepatan mesin. Pengoperasian mesin terpadu dari proses pembentukan kantong, pengeleman dan pemotongan.
Tabel 3.1. Spesifikasi Seal Machine
Model DZ 400 / 2SV
Energi 380 Volt / 2 Kw / 50 Hz
Cos Q 0,8
Sealer Size 400 x 300mm
Kapasitas 423 unit/jam

3.9.1. Uraian Proses Mesin Seal Machine.
Udang yang telah disusun pada polybag kemudian dibawa ke mesin Vacum dan Seal Machine. Mesin ini telah diatur dengan timer waktu dimana waktu untuk vakum adalah 4 detik dan waktu untuk seal adalah 3,5 detik. Kapasitas sekali vacum dan seal adalah delapan pak. Udang yang telah selesai divakum dan diseal selanjutnya disusun pada tray dan di bawa ke mesin CPF untuk dibekukan. Pengoperasian mesin ini terpadu mulai dari proses pembentukan kantong, pengisian, pengeleman dan pemotongan. Mesin ini telah dilengkapi dengan sistem pengendali otomatis, yakni mesin akan berhenti secara otomatis jika bahan yang dibungkus habis, supaya tidak membentuk kemasan yang kosong dan apabila salah satu elemen pemanas atau sekring elemen putus, supaya tidak terjadi kebocoran pada bungkusan karena temperatur penyegelan.
3.9.2. Jenis dan Pola Segel ( Seal )
• Beragam jenis segel yang dapat dibuat oleh mesin adalah sebagai berikut :

Segel Tengah
(Center Seal) Segel Tiga Sisi
(Three Side Seal) Segel Empat Sisi
(Four Side Seal)
Jenis segel lipat membentuk kemasan menyerupai kotak lipat samping yang tampak lebih anggun dan berkelas daripada jenis segel yang lain, jenis segel ini hanya tersedia untuk mesin ini.
• Pola Segel
Beragam pola segel yang dapat dibuat oleh mesin adalah sebagai berikut :

Pola Garis
ukuran : 4, 6, 8, 10 12 (mm) Pola Kotak
ukuran : 4 ,5 (mm)

• Jenis Potongan
Beragam jenis potongan yang dapat dibuat oleh mesin pada sisi atas dan bawah kemasan adalah sebagai berikut :

Potongan Gerigi
(ukuran : halus, kasar) Potongan Silet Potongan Rotari

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s